Mana sanggup aku di dekatmu
bisa meledak jantung ini kamu buat
Mana sanggup kutatap dalam matamu
bisa tenggelam aku di dalamnya
Mana sanggup kubernapas di sampingmu
tercekik tenggorokanku menghirup wangi tubuhmu
tapi pada hari nanti
pelukmu akan meredam debaran jantungku
tanganmu menggenggamku melewati waktu
dan ciummu menghangatkan hidupku
Jumat, 18 Juli 2014
Selasa, 15 April 2014
Senja ~ Chapter 2
“Kak kenapa pikniknya sore sih? Kenapa gak pagi-pagi?”
“Namanya juga Senja. Ya sore-sore dong.”
“Jadi gimana awal mula punya ide tentang novel ini?”
Beralas tikar, di bawah pohon-pohon rindang di taman kota . Diskusi ringan buku Senja
yang baru dilaunching berlangsung
hangat. Diiringi petikan gitar seorang sahabat, Senja larut dalam dunianya.
Sesekali ia tertawa riang. Matanya bercahaya. Semua kesenduan saat pertama kubertemu dengannya sirna.
Ingin sesekali aku menjadi angin yang membelai lembut rambutnya, menerpa halus
kulitnya. Membisikan seluruh puisi cinta untuknya.
“Hey!”
Lamunanku buyar, gadis itu sedah berdiri di hadapanku.
“Eh Nona Manis udah selesai diskusinya?” Beberapa peserta
tertawa menggoda ketika melewati kami. “Udah cantik, pinter lagi… makin cintaa
deh.” Dia hanya meninju pelan lenganku. Lalu mendelik dan meninggalkanku.
“Apa, Lo?” jawabnya, santai.
“Tuh kan udah ditemenin malah ngeloyor gitu aja.” Aku merajuk.
“Genit bener sih lu jadi orang! Males gue”
Aku menarik lengannya. “Siapa yang genit sih? Aku kan cuma
berkata jujur, Sayang”
Dia melepaskan tanganku. “Sayang-sayang, semua cewek aja lu
panggil sayang. Gombalan lu gak ngefek buat gue. Basi!”
“Tapi aku serius tau sama kamu. Sumpah.” Dua jari kubentuk
menyerupai huruf V.
“Whatsoever.”
“Kamu kenapa sih, ga pernah percaya sama aku?”
“Percaya apa?”
“Percaya kalo aku sayang kamu.”
“Lah, lo tiap hari ngomong sayang-sayang begitu juga sama semua perempuan.”
“Kamu tuh ga pernah ngasih aku kesempatan sih.”
“Kesempatan? Dana umum, keless?
Main monopoli sana!”
Tarikkan tanganku kini agak erat agar kali ini dia
menghentikan langkahnya. Mendengarkanku baik-baik.
“Kayaknya kamu akan lebih ngasih dua- tiga kali kesempatan
bagi pria brengsek manapun kecuali aku.” Dia bengong atau bingung, entah. “Iya,
kamu akan menerima pria brengsek manapun yang akan main-main sama kamu, bahkan
bisa ngasih kesempatan lagi untuk dia nyakitin kamu. Tapi kamu gak akan pernaah
ngasih aku kesempatan untuk menunjukkan keseriusan aku. Iya kan ?”
Senja tampak kaget. Dan bingung. “Udah selesai ngomongnya?”
dia menghentikan taksi. “Makasih ya udah nemenin. Gue ada perlu dulu, daah.” Lalu meninggalkanku begitu
saja.
***
Rabu, 02 April 2014
Senja ~ Chapter 1
Pada suatu senja di bulan
Mei. Gadis itu terpaku di tepi pantai, mencium rakus amis laut dan menatap
lurus ujung horison. Garis batas langit dan laut.
Jemari telanjang menelusup ke
dalam pasir. Hangat. Kulit melegam terpanggang matahari. Sudah seharian dia
belum juga beranjak.
Secarik surat ada dalam genggamannya.
Pada senja kutitipkan sebuah kehangatan
Penantian akan pulang
Sirnanya kesenduan
Cinta
Gadis itu lalu berdiri.
Mendekap surat
dalam-dalam. Tersenyum ke arah surya yang tenggelam. Berjalan menuju tepian
pantai. Senyumnya mengembang. Terus melangkah. Riak-riak ombak tak
menghalanginya. Berat-berat kakinya terus bergerak. Air laut sudah sampai
sedadanya.
“Nona! Berhenti Nona!!”
**
Jumat, 14 Februari 2014
Digoyang Pantura
Rencana meggoyang Pantura tinggalah rencana, yang ada hati
daku yang digoyang-goyang.
Selembar undangan pernikahan dari teman dekat menjadi alibi
untuk jalan-jalan ke Pantura. Sebenarnya sih gak se-Pantura-Pantura banget. Cuma
Sumedang-Majalengka-Cirebon-Kuningan. Ya namanya ada undangan ke luar kota,
weekend pula, sayang banget dong kalo gak sekalian dipake ngider. Teu kaop kalo temenku bilang. Teu kaop aya celah jang ulin, pasti langsung
indit. (--,) he he he.
Rencananya hari pertama ikut rombongan temen kantor. Rutenya
Sumedang-Majalengka-Cirebon. Alhamdulillaah lancar. Berangkat jam 5 Teng. Iya,
kita memberlakukan Tenggo. Jam 5 Teng langsung Go, untuk menghindari macet,
telat dan hal-hal menyebalkan lainnya. Mampir dulu ke Majalengka, nengok yang
sakit eh malah dibekelin makanan. Hehehe. Rezeki ya cyn.
Perjalanan dilanjutkan, langsung ke tempat kondangan. Alhamdulillaah
nyampe sana pas laper, pas makanan lagi banyak-banyaknya. Segala makanan khas
Cirebon disajikan. Mie koclok, empal gentong, tahu gejrot, segala rupa you
named it pokoknya. Perut sudah kenyang, perjalanan akan dilanjutkan dengan
wisata belanja.. Kita semua masuk ke bus, udah absen semua tapi kok gak
jalan-jalan ya… Ternyata oh ternyata busnya amblas. Di parkiran. Yasalaaam… HAHAHAHAHAA!
Sekitar satu setengah jam sampai akhirnya mobil derek datang,
kita semua udah selesai istirahat dan shalat Zuhur, jadi lebih enakan sih. Perjalanan
dilanjutkan ke pasar Pagi. Biarpun udah siang bolong namanya tetap Pasar Pagi.
Gapit, sarang madu, emping dan lain-lain sudah masuk ke dus.
Mbak penjual: Mbak, ini sudah masuk semua ya. Mau ditulis
atas nama siapa?
Daku: Atas Nama Cinta
Mbaknya: Okeyfain.
Cirebon lagi panas-panasnya saat itu, kayak hati yang lagi
gerah lihat gebetan ngobrol ama mantannya. Segelas es dawet menjadi penyejuk,
SERRR enak adem, apalagi itu esnya dibayarin ama temenku.
Seolah kurang dramatis, lagi ngelamunin gebetan yang lagi
sama mantannya itu tiba-tiba saja hujan turun. BYURR. Kami langsung berlarian
menuju bus. PPFFTTT. Tujuan selanjutnya
adalah Desa Batik Trusmi. Trusmi it works. *halah*
Belanjaan sudah di tangan, bus rombongan akan kembali ke Bandung. Daku? Tentu
saja daku dan dua teman ngebolang turun dan memisahkan diri dari rombongan. Bye
bye! ^^
Lalu kemanakah tujuan kami bertiga selanjutnya? Hotel belum
booking, mobil rentalan baru ada besok pagi, oleh-oleh dan tentengan udah
segambrengan. Makan! Itulah jawabannya. Kami pun menuju salah satu tempat empal
gentong terkemuka di Cirebon. Haji siapaa gitu, lupa daku. Hehehe.
Semangkuk empal asem sudah di perut, badan juga sudah minta
istirahat. Kasur Mana Kasur?? Referensi hotel yang kami punya di antaranya
adalah Amaris dan Sidodadi di jalan Siliwangi, tepat di samping pintu stasiun
Cirebon. Tapi kami lebih memilih Hotel Slamet yang terletak persis di seberang
hotel Amaris karena... harganya… sepertiga dari harga Amaris. HAHAHAHAHAAHA!
Tempatnya cukup nyaman apalagi jika dibandingkan dengan
harganya. Satu kamar ada 2 bed dengan fasilitas fan, teve dan kamar mandi
dengan kloset duduk. Bersih dan tidak spooky. Plus dapat jatah sarapan pula.
| HAPPY TUMMY |
Setelah istirahat, mandi, shalat Maghrib dan Isya, tujuan
kami berikutnya adalah wisata kuliner. Makan lagi? Tentu saja! Nasi Jamblang
Mang Dul yang berada persis di sebrang Grage Mall menjadi pemberhentian
berikutnya. Selesai makan, sepertinya masih ada space di perut kami. Sambil gigitin
es lilin kami jajan Tahu Tegal. Tahu yang dipotong kecil lalu dilapisi tepung
kanji. Enak. Malam makin larut, perjalanan ditutup dengan naik becak
sepuluhribueun.
| LAH ABANG BECAKNYA MANAA? |
Ketukan bellboy yang mengirim sarapan ke kamar membangunkan
daku. Sudah jam tujuh pagi. Tenang aja, mobil nanti jemput jam delapan kok.
TAPI KAN DAKU BELUM MANDI YA. Bergegaslah segera mempercantik diri dan sarapan
nasi kuning yang disediakan hotel. Rencananya kalau kami bangun lebih pagi,
pengin foto-foto dulu di stasiun, tapi ya namanya juga bangun kesiangan, lha ya
piye..
Jam delapan tepat, driver sudah menjemput.
Mas Rental: Ada yang mau dicari lagi ndak di Cirebon? Apa
mau langsung ke Kuningan?
Daku: Saya sih enggak. *ngelirik temen cowok*
Temen: Hehehe iya, saya mau ke Trusmi lagi.
TUH KAAN SIAPA BILANG DOYAN BELANJA ITU HANYA MILIK KAUM
PEREMPUAN. HIH.
Tempat pertama yang kami kunjungi di Kuningan adalah
Linggarjati. Sebuah wisata alam dan sejarah.
Next stop yaitu….. belanja oleh-oleh lagi. Sebuah toko
bernama Teh Diah.
Lalu kami menuju Sangkan Hurip, ada wisata alamnya ada juga
waterboom.
| MBAH MINTA DUWIT SEKARUNG |
| ALAY-ING EVERYWHERE |
| ECOPOT COPOT COPOT KAGET GUE BOK |
| BELAKANGKU ITU GUNUNG CIREMAI ^^ |
Lanjut ke Waduk Dharma.
Pulang dari Waduk Dharma, daku dapat berita buruk soal keadaan Mamah. Maka rencana kuliner di Kadipaten dan Sumedang pun diurungkan, Mas Driver menginjak pedal gas dan bergegas menuju Bandung. Rasanya tak karuan, lemas, sedih, bingung, kesal, seperti melayang. Esoknya Mamah dilarikan ke Rumah Sakit karena gula darahnya tinggi sampai 519. Alhamdulillaah setelah 5 hari dirawat Mamahku sayang sudah bisa pulang ke rumah.
Jadi bagaimana rasanya hatiku ini tidak digoyang-goyang. Lagi
jalan-jalan tiba-tiba ada kabar buruk. Rasanya seperti naik ontang-anting. Goyang-goyang gak karuan. Never gonna forget this trip.
Sampai jumpa di vacation selanjutnya!
Senin, 10 Februari 2014
Untuk Ayah Yang Cemas Akan Calon Menantunya
Tenanglah, Ayah. Ia akan segera datang.
Sudah menjadi janji-Nya bahwa tiap manusia ditakdirkan
berpasang-pasangan. Tak usah ragu akan hal itu.
Izinkan hatiku sedikit berkelana, ketika segalanya dirasa
pas, akan kubawa ia pulang. Ia akan menghadapmu, memintaku padamu, berjanji
akan mencintaiku seumur hidupnya, membahagiakanku sampai waktu yang tidak
terbatas.
Ia yang akan membukakan pintu bahkan ia yang akan
mengantarku pulang sehingga tak usah lagi kau terkantuk-kantuk cemas menantiku jika
aku pulang telat. Ia yang akan memasakkan untukku jika aku sedang malas makan,
sehingga tak usah lagi kau terbangun di malam hari karena rengekanku yang ingin
makan ini itu. Ia yang akan menghalau tikus-tikus menyebalkan sehingga tak usah lagi kau mengobrak-abrik dapur
ketika aku berteriak jijik melihat binatang itu. Ia yang akan menyiapkan lampu
darurat ketika tengah malam listrik mati sehingga tak usah lagi kau terbangun
mencari dan menyalakan lilin ketika aku menangis ketakutan karena kegelapan.
Tak ada satupun permintaanku yang tak dikabulkan oleh-Nya
melalui peluh dan ridhomu, bukan? Sepsang sepatu roda berwarna kuning, liburan
tiap tahun hingga gelar sarjanaku.
Tenanglah, semudah membalikan telapak tangan, ketika saat
itu tiba, ia akan menemuimu. Menjadikanku ratunya, menjadikanku wanita yang
sempurna
Ketjup,
-Putri kecil kesayanganmu
Senin, 03 Februari 2014
Dear Connie
Dear Connie,
Saat pertama tahu namaku akan bersanding dengan namamu di
sebuah buku berjudul Solemate, aku bahagia. Seseorang yang kufollow sudah cukup
lama. Seseorang yang aku kagumi.
Dari twitter aku tahu kalau kamu mengurus pria kesayanganmu.
Cintamu mengingatkanku pada pria kesayanganku juga, cinta kita sama besar
kurasa pada mereka.
Dear Connie,
Entah hatimu terbuat dari apa, ketabahanmu seringkali
melecut semangatku. Your parents will so proud of you. My deep condolences,
Connie.
By the way aku suka sekali avatar twittermu, cantik sekali
seperti Hello Kitty.
Ketjup,
F
Minggu, 02 Februari 2014
Diam-Diam Suka
Akhi,
Kuberi tahu rahasia besar ya. Begini, entah mengapa tiap di hadapanmu mulutku terkunci rapat, pipiku merona, perutku seperti
terobrak-abrik tak karuan. Persis seperti tiap-tiap aku jatuh cinta. Jangan senyum
membaca surat ini. Jangan. Bisa kaku dibuatku kalau melihatmu tersenyum.
Tapi siapakah aku, yang hanya berani mengagumimu diam-diam.
Diam-diam meminta Tuhan untuk mempertemukan kita lagi.
Pertemuan yang seolah tak disengaja padahal kutahu benar ini
sesuai dengan yang kudiskusikan dengan-Nya.
Diskusi pada suatu pagi di Masjid Nabawi.
Ah, Akhi.
Salam,
F
Langganan:
Postingan (Atom)


