Senin, 14 Januari 2013

Tak Pernah Sejatuh Cinta Ini


Pagi ini hujan turun di kotaku. Aku mengambil sepeda dan mengayuhnya. Merasakan setiap buliran air yang menerpa wajah.

Aroma khas hujan yang menyentuh tanah menyerbak memenuhi penciuman. Petrichor, begitu menyenangkan.

Tidakkah kamu ingin menikmatinya di sini bersamaku?
Oya, “belum saatnya” kamu dulu bilang.


Ah, tak pernah ku-se-jatuh-cinta ini pada hujan.
Kamu tahu, kalau dahulu setela hujan reda aku akan mencari pelangi? 
Kini tak pernah kulakukan, karena kalaupun dia tidak muncul, aku tetap bisa melihatnya di kedua teduh matamu. 

Selamat pagi kamunya aku :)

Kamis, 10 Januari 2013

Dua Tahun Saja

Nona manis,

Tolong
Jangan terus menerus salahkan saya atas kekacauanmu saat ini

Move on?
Belum bisa move on dari saya?
Tahik.

Dua tahun cukup untuk meratapi kisah kita

Coba kamu berkaca
Kenapa suka sekali jatuh cinta pada orang yang salah

Saya muak dikambinghitamkan atas semua hal

Saya tahu saya salah
Betul saya sudah berbuat jahat
Begitu jahat
Tapi saya rasa kamu cukup pintar dan pandai menguasai perasaan dan keadaan

Dua tahun cukup
Dan masa itu sudah berlalu

Hentikan senyum kecil itu
Karena kamu tahu benar luka dari siapa yang masih membekas di hatimu saat ini
Yang pasti luka yang pernah saya toreh hanya perlu dua tahun saja

Dua tahun saja

Rabu, 19 Desember 2012

Senja Yang Manis


Selamat petang, Senja

Selamat petang, Fajar

Senja sedang apa?

Merindumu. Oh, baru selesai baca Dimsum Terakhir.

Bagus?

Menarik, tapi ritmenya agak datar. Gak terlalu bisa bawa perasaan turun-naik.

Kan, memang kamu yang pintar bikin perasaan turun-naik.

Ah, kamu.
Kukirim satu cerita ya?

Kutunggu!

Ya, tunggulah, takkan selama ku menunggu kamu.




:’)

Bahagia itu sederhana ya. Sesederhana semangkuk mie dan senyum kamu. Mungkin karena kamu salah satu sumbu kebahagiaanku..

Bahagia itu sederhana. Kamu tersenyum, aku bahagia. Kebahagiaanmu, kebahagaiaanku.

Manis.

Kamu lebih manis.

Hati-hati diabetes ya..

Sungguh, Kamu begitu manis.

Tidak, aku tak semanis itu. Seperti komposisi kopi favoritku. Tiga Dua Satu. Tiga sendok teh kopi, dua sendok teh susu dan satu sendok teh gula. Bittersweet.

Biarkan aku sebagai susu, dan kamu adalah manis yang orang sukai. An extraordinary taste. You put an extra to the ordinary.

Ah!
Cukup, aku tak ingin terbang sampai langit ke tujuh lalu terjun bebas kembali ke bumi tanpa ada yang menangkapnya.

Pakai sabuknya erat-erat, kembangkan sayapmu dan terbanglah.

Kalau aku jatuh dan sayapku patah?

Pakai pesawat saja. Aku akan ke airport.

Dan biarkan aku terbang sendiri?

Tidak, aku akan berdiri di arrival gate. Jika saja kamu butuh tumpangan untuk ke rumah.

Rumah? Rumah siapa? Rumahku? Rumahmu?



                                                          ~ Lalu malam itu, Senja tertidur dengan senyum di bibirnya. 


*tulisan bersama @AirunStarky 

Jumat, 14 Desember 2012

Jika Dia

Tuhan,

jika dia jodohku, mudahkanlah segalanya
lancarkan segala urusannya

buka hatinya
buka hatiku
buka hati kami
buka hati orang-orang di sekeliling kami

jika bukan,
tunjukkanlah jalan lain

jangan biarkan ku jatuh hati padanya
jangan biarkan ku patah hati lagi

boleh ya?

Kamis, 29 November 2012

Sandaran Terakhir


Kalaupun aku sudah tak bisa memelukmu lagi, berbalik dan berdirilah di sisi pintu ini. Biarkan aku bersandar di pintunya. Dan aku akan bersikap seolah sedang menyandarkan kepalaku di punggungmu.

*
“Menurut kamu bagus yang mana?” tanyaku sambil menyerahkan contoh undangan pernikahan.
“Pilih aja sesuai selera kamu, Dek.”
“Iya, aku bingung ini bagus semua.” 
“Coba minta pendapat Rendra.”
“Justru Rendra yang nyuruh aku milih ini. Jadi yang mana?”

“Dek, aku gak berhak nentuin surat undangan pernikahan kamu.” katamu.
“Aku kan cuma minta pendapat kamu aja.” jawabku.

“Dek, tolong. Jangan libatkan aku di sini.”
“Tapi..”

“Ini pernikahan kamu dan Rendra. Aku gak bisa ikut campur.”
“Aku kan cuma minta pendapat.” sahutku,  “sebagai teman..”

“Kalau kita gak pernah pacaran lebih dari tiga tahun, gak pernah sampai merencanakan penikahan impian, gak pernah buang tiket bulan madu yang gak jadi, mungkin aku bisa bantu.”
“Tapi kita udah sepakat untuk berteman lagi kan. Buktinya hubungan kita masih baik-baik aja. Aku bisa share apapun sama kamu.. Aku..”

“Kita harus move on Dek.”
“Bukannya kita udah move on? Ini, Aku mau nikah sama cowok lain.”

Move on macam apa yang kamu maksud?” tanyamu.

“Kita masih satu bagian di perusahaan ini. Masih bisa kerja sama di tiap proyek. Kamu bisa cerita apapun sama aku, aku juga. Kamu masih bisa ketawa sama aku, aku masih curhat dan nangis di depan kamu.. Kita..”

“Dan nyembunyiin semua sakit di sini?” katamu sambil menunjuk jantung.

“Itu bagian dari move on kan?”

“Kita harus berhenti pura-pura bahwa semuanya baik-baik aja Dek.”

“Tapi..”

“Kita harus benar-benar saling melepaskan.”


Air mataku berderai, memelas agar kamu bisa luluh lalu memelukku seperti biasa. Kamu bergeming. Menggeleng lalu membiarkan hatiku hancur tak bersisa, “Sudah cukup Dek.” Pelan dan begitu menyayat hati. Lalu kamu melangkah ke luar.

“Tunggu, berhenti di situ.” kataku terisak, “tolong berdiri aja di sisi pintu ini. Sebentar.”

Aku merapatkan diri ke sisi pintu, menempelkan kepalaku. Bersikap seolah sedang bersandar di punggungmu.

Dingin dan begitu menyakitkan.

Selasa, 27 November 2012

Tak Jago Menunggu


Dan aku tak mengerti
Mengapa air mata yang mengalir tanpa henti
Tak mampu menghapus sakit ini

Mengapa gelapnya malam
Tak lebih kelam dari asa yang begitu muram
Ini jantung yang sempat kau hujam
Mengapa luka yang kau toreh begitu dalam?

Aku menyerah
Agar tak usah  lagi ada terserah penuh amarah

Aku berhenti berjuang
Bukan karena sudah tak sayang
Para cupid mabuk bersenang-senang
Gemar melesatkan panah sembarang

Habis dayaku mengertii kamu
Keraguanmu menyadarkanku
Aku tak punya banyak waktu
Aku tak mau denganmu

Carilah perempuan lain yang lebih jago soal menunggu 

Minggu, 28 Oktober 2012

Pelangi Yang Sama


“Aku masih ingin mengejar pelangi
Kendati letih menelusup ke dalam nadi
Atau ketika kau hentikan langkahmu
Aku mengerti
Dengan sikapku ini
Mungkin kau akan menahan laju
Kita,  masing-masing berada di tempat yang jauh berbeda
Dipisahkan ratusan kilometer
Tapi kuberharap kita mengejar pelangi yang sama”


Aku membaca surat itu lamat-lamat
Mengartikan tiap kata yang tersurat
Kamu ingat?
Pada malam yang temaram
Bintang yang tak pernah padam

Ketika semua lelah dunia kita curahkan
Ketika hampir saja asa kuputuskan
Ketika hatiku begitu terpanaskan

Lalu matamu begitu saja meneduhkan
Dan semua emosi kemudian terluluhkan

Seketika jantungku berdegup kencang
Kucoba menelisik pada bening matamu
Apa yang baru saja kau lesatkan?
Sesuatu yang menghujam jantungku

Begitu  hangat
Begitu  nyaman
Begitu   menenangkan


Aku tahu
Bukan hal mudah menyatukan dua hati
Seorang penyair pernah berkata :
“Cuma kita yang bisa pertahankan kita”
Kurasa dia benar
Tak peduli berapa jarak pisahkan kita
Aku akan bertahan

Kita akan mengejar pelangi yang sama

*tulisan bersama @AirunStarky
bisa didengarkan juga di www.soundcloud.com/tetehna9a/pelangi-yang-sama