Senin, 03 September 2012

Flash Fict: Jika Cinta Dia


“Aku harus pergi..”

Terlampau sering kau buang air mataku
Tak pernah kau tahu dalamnya
Rasa cintaku

*
Praya terhenyak melihat deretan kalimat-kalimat manis yang ada di ponsel Ken. Kata-kata puitis beraroma kerinduan dan ungkapan sayang. Tentang ciuman-ciuman hangat dan malam penuh gairah. Sampai mual Praya dibuatnya.

Syabila, gadis itu. Ternyata Ken masih berhubungan dengannya. Sudah hampir setahun setelah terakhir kali Praya mendapati Ken dan Syabila bermesraan di sebuah kamar.

Tak banyak inginku
Jangan kau ulangi
Menyakiti aku sesuka kelakuanmu
Ku bukan manusia yang tidak berpikir
Berulang kali kau lakukan itu padaku

Saat itu Praya memaafkannya, setelah Ken berulang kali memohon maaf sambil menciumi kaki Praya.

Kali ini rasanya sulit.

Jika cinta dia
Jujurlah padaku
Tinggalkan aku di sini tanpa senyumanmu
Jika cinta dia
Ku coba mengerti

“Praya buka pintunya!” terdengar suara Ken dari luar kamar.
“Bajingan kamu Ken! Brengsek!”  teriakan terdengar dari dalam kamar.
“Kamu gak bisa ngamuk-ngamuk dan ngunci diri kaya gini. Kita selesain baik-baik. Aku bisa jelasin..” belum selesai Ken bicara sebuah ponsel dilempar dari pintu. Lalu Praya menutup pintunya lagi.

Teramat sering kau membuat patah hatiku
Kau datang padanya
Tak pernah ku tahu
Kau tinggalkan aku di saat ku butuhkanmu
Cinta tak begini
Selama ku tahu
Tetapi ku lemah karena cintaku padamu

Praya menangis sejadinya hingga tertidur di lantai. Paginya ia membulatkan tekad untuk pergi dari rumah Ken. Pergi dari hidupnya Ken.
“Aku harus pergi..”

Jika cinta dia kucoba mengerti
Mungkin kau bukan cinta sejati di hidupku

Flash Fict: Pada Satu Cinta


“Praya, maafin aku. Tolong kembali..”
Kenzi terpaku di depan pintu rumah Praya. Kali ini sepertinya Praya tidak bisa memaafkannya.

*
Pagi itu Kenzi mendapati Praya mengemasi barang-barangnya. Semalam mereka bertengkar hebat, Praya menangis dan mengunci pintu kamar. Kenzi terpaksa bermalam di kost temannya.

Seharian ia mencoba menghubungi Praya, dia tidak ada di kantornya, ponselnya tidak ada yang aktif satupun. Kemudian Praya menghilang, dua hari, tiga hari, seminggu. Tidak ada kabar.

Kenzi seperti kehilangan separuh nyawanya, dia sungguh menyesal telah menyakiti Praya.

Setiap hari ia mendatangi rumah Praya, tidak ada jawaban. Baru setelah lewat seminggu ia melihat mobil Alex, sahabatnya, terparkir di rumah Praya. Tak membuang waktu ia segera menggedor rumah Praya.

“Praya, maafin aku. Tolong kembali..”
Praya menggeleng sambil menahan air matanya. “Udah cukup Ken.. terlalu sering kamu begini.”

Masihkah mungkin ku kembali
Tuk megisi hatimu
Yang jelas hati
Ku tak lagi sanggup jauh darimu

“Praya, aku janji ga akan ngulanginnya lagi. Sumpah..”
Praya tak bergeming.

Aku kan berjanji
Takkan mengulang segala kesalahan

“Aku cuma cinta kamu Praya..”

Aku kan mengabdi
Pada satu cinta dan itu dirimu

“Aku capek Ken..”

Jujur ku hanya seorang lelaki
Yang terkadang tak lepas dari godaan

Lalu segera Praya menutup pintu rumah. Juga hatinya.

Harus ku memiliki
Kesempatan tuk menyayangimu lagi

Ku lihat kau ragu
Adakah yang telah mengganti aku

Minggu, 02 September 2012

Flash Fict: Separuh Aku


“Diapain lagi lo ama si Ken?”
“Apaan sih Lex..”
“Lo ujug-ujug ngajak ketemuan siang-siang begini. Jam kantor. Kenapa coba?”
“Gue cuma kangen lo..”
“Basi. Kenapa masih dipake tuh kacamata item?”
“Sakit mata.”
“Sakit mata apa sakit hati?”

Dan terjadi lagi kisah lama yang terulang kembali
Kau terluka lagi dari cinta rumit  yang kau jalani

Praya segera memesan iced cappuccino, membuka laptopnya lalu terbenam di Microsoft excel.

“Gue mau ngerjain laporan di sini aja deh.”

Alex menghela napas. Bukan sekali ia menghadapi Praya seperti ini. Ia segera mengambil ponselnya. “Mbak Mita, aku visit customer ya, gak balik lagi ke kantor.”

Aku ingin kau merasa kamu mengerti aku mengerti  kamu
Aku ingin kau sadari cintamu bukan lah dia

”Sampai kapan Lo mau diginiin ama si Ken?”
Praya mengunci rapat mulutnya. Seolah sibuk dengan laporannya.

Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku dirimu

Pesanan sudah datang, Praya tersenyum lalu mengucapkan terimakasih.

Alex membereskan tasnya, lalu hendak beranjak. Segera Praya meraih tangannya.
“Jangan tinggalin gue sendiri Lex.”

Ku ada di sini
Pahamilah kau tak pernah sendiri
Karena kau selalu
Di dekatmu saat engkau terjatuh

Alex kembali menghempaskan tubuhnya di sofa. Menemani Praya hingga entah kapan.

Aku ingin kau merasa
Kamu mengerti aku mengerti kamu
Aku ingin kau pahami cintamu  bukanlah dia

sacrificar

Kalau ada cerita tentang seorang pecinta yang rela mati untuk kekasihnya, itulah aku.

Aku jatuh cinta padanya. Sejak pertama kali berjumpa di tahun ajaran baru.

Dia gadis mungil pindahan dari sekolah lain. Rumor yang beredar ia tinggal kelas. Karena orang tuanya malu maka ia mengulang kelas duanya di sekolah ini.

Tak sulit untuknya bisa bergabung dengan genk popular di SMA ini. Wajahnya imut, rambutnya terkucir kuda dengan poni rata sebatas alisnya. Hidungnya mancung, bibirnya mungil, pipinya tirus.

Aku suka melihatnya tergelak. Memamerkan gigi kelincinya sambil menenggak soda berwarna merah langsung dari botolnya.

Dia suka berkumpul dengan teman-temannya di warung ini. Kios kecil yang menyediakan cemilan ringan, tempatnya di belakang bangunan sekolah.

Terhalang oleh dua rumah gedong. Tak heran kalau memang sudah seperti basecamp anak-anak yang bolos sekolah. Termasuk dia.
Kudengar selintas kalau dia berasal dari keluarga broken home. Kini ia tinggal bersama ibu dan ayah tirinya.

Sesekali kulihat ia dijemput oleh seorang pria yang belakangan kuketahui pacarnya. Atau mantan pacarnya. Karena statusnya masih belum jelas hingga saat ini. Dilihat dari seragamnya, pria itu bersekolah di SMAnya dahulu.

Badannya tinggi, hidungnya mancung, alisnya tebal selalu menggunakan motor sport keluaran terbaru.
Sebal sekali aku melihat gadisku memeluk pria itu tiap kali dibonceng.

Siang itu kulihat gadisku berjalan sempoyongan menuju warung. Dia mengelus lututnya yang berdarah, rupanya dia terjatuh ketika melompati pagar sekolah.

"Sial...! Sial banget gue. Kampret. Taik."
"Kenapa Neng?"
"Sakit Bang! Sakit!"
"Lututnya? Ini pake obat merah."
"Ah ini mah ga seberapa, di sini yang sakit Bang. Jauh lebih sakit!"
"Loh emang tadi pas jatoh, dadanya kena juga?"
"Yang ini bukan karena jatuh dari pagar. Tapi karena jatuh cinta!"
"..."
"Dia pergi gitu aja setelah ngambil semuanya dari gue Bang!"
Seketika dia menangis tersedu-sedu.

Ah, tak tega rasanya aku melihat dia seperti itu. Apa yang bisa kulakukan untuknya?

"Bang, minta yang menthol!"
"Biasanya ga pernah ngerokok Neng."
"Bodo! Gue mau ngerokok sekarang."

Aku pun memberanikan diri, menyerahkan seutuh ragaku untuknya. Kubiarkan ia menyulutku dengan lighter murahan itu. Kupasrahkan jiwa ketika ia menghisapku. Akan kulakukan apapun untukmu gadisku.

Aku masuk dalam mulutnya, menguasai peparunya lalu terbang menjadi asap.

Kalau ada cerita tentang seorang pecinta yang rela mati untuk kekasihnya, itulah aku.

Sebatang rokok berbalut kertas putih, berfilter dengan aroma menthol. Yang jatuh cinta pada seorang gadis mungil anak pindahan baru. 

Selasa, 28 Agustus 2012

adiaĆ­a

Seperti hujan yang pamit dalam rintik-rintik laun
hatiku mengundurkan diri dari pertarungan ini

Kata hati ku lukiskan dalam selengkungan bianglala beraneka warna
yang berujung pada horizon

Tak peduli betapa gelapnya perjalanan kita
kamu telah memberikan warna-warni dalam hidupku

Kutitipkan kamu pada-Nya
Kugantungkan kebahagiaanmu pada-Nya

Biar nanti kita bertemu lagi
bukan hanya dalam sekadar kesenangan tapi kebahagiaan

Kamis, 09 Agustus 2012

Hingga Ujung Waktu


“Nemuin Arman lagi?”
“Iya Ma, hari ini jadwal dia terapi.”
“Mama doain biar dia cepet sembuh, jadi kamu ga repot kayak gini lagi?”
“Ma.. please..”
“Loh, bener kan. Emangnya mau sampai kapan kamu ngurusin dia? Inget Sas, kamu bentar lagi tunangan sama Edo.”
Lagi Sasti menghela napas. “Aku berangkat ya Ma.”

**

Sepulang merayakan pomosi jabatan bersama teman-temannya, Edo sang kekasih sudah menawarkan untuk menjemputnya tapi Sasti lebih memilih menyetir jazznya sendiri. Jalanan yang lenggang karena saat itu sudah menunjukkan pukul 23.40 WIB. Sasti memacu kendaraanya dengan kencang. Badannya sudah letih, matanya sudah cukup berat. Hanya kasur dan guling yang ada di pikirannya. Untung besok hari Sabtu dan tidak ada klien yang harus ditemui jadi dia bisa tidur sepuasnya.

Dari jauh Sasti melihat lampu lalu lintas sudah berwarna kuning, Sasti menginjak pedal gasnya. Sayang sekali rupanya lampu merah lebih dahulu menyala sebelum Sasti tiba di perempatan. Melihat jalanan yang sepi tanpa pikir panjang ia menginjak lagi gasnya. Dari arah kiri sebuah motor melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Tabrakan tidak bisa dihindari. Mobil Sasti menabrak motor itu dan membuat pengendaranya terpelanting sekitar lima meter sebelum akhirnya motornya ikut terbang dan jatuh tepat di tubuhnya.

*
Mama dan Papa berada di samping Sasti ketika ia sadar setelah tiba di Rumah Sakit. Tidak ada luka berarti selain sedikit memar di tangannya.

“Ma, tadi Sasti…” kalimatnya terhenti, badannya baru terasa sakit.
“Iya sayang, tadi kamu tabrakan.”
“Iya Sasti inget. Ama motor bukan? Trus dia gimana?”
“Lagi ditanganin dokter. Udah jangan dipikirin, semua pasti baik-baik aja.”

Tidak berapa lama Edo tiba. Sasti meraung dipelukannya. Menyesal tidak menuruti tawaran Edo untuk menjemputnya.

**
“Sore Tante, Armannya udah siap?”
“Belum Sas, biasa masih di kamar. Tante gak bisa ngebujuknya.”
“Biar Sasti coba ya.”
Marini, Ibunya Arman mempersilakan Sasti masuk ke kamar Arman. Tampak Arman masih terbaring di sudut ranjang. Perlahan dia mengganti posisinya, menghadap tembok. Membelakangi Sasti.

“Assalamualaikum, Arman.”
“Waalaikum salam.” Jawabnya masih memunggungi Sasti.
“Kok masih tiduran sih, ayo bangun kan sekarang jadwal ke dokter.”
Pria yang dipanggil tidak juga bergeming. Sasti perlahan mendekat, diusapnya bahu Arman.
“Man, udah sore nih. Nanti keburu penuh pasiennya.”
Arman menepis tangan Sasti.

“Arman. Jangan gitu dong. Sasti udah repot-repot kesini jemput kamu kok malah gitu sih.” Seru Ibunya.
“Pergi kamu.” Kata Arman melirik Sasti.

**
Duniaku hancur. Karierku hancur. Hidupku hancur. Perempuan itu telah mengambil semuanya. Merenggut semua harapan dan cita-citaku.
Perempuan bodoh yang doyan minum dan suka melanggar lalu lintas. Sialan!
Mana ada pengacara yang kakinya lumpuh seperti aku.

**

Sasti memainkan bola basket yang tergeletak di samping sofa. Marini tersenyum menghampiri sambil membawakan secangkir teh hangat.
“Bolanya udah kempes. Gak pernah dipake lagi sama Arman. Aku udah ngehancurin hidupnya Arman ya Tante.”
“Sasti, jangan ngomong kaya gitu. Semua udah ada jalannya. Sasti, Tante dan semua orang udah berbuat yang terbaik untuk Arman. Sekarang kita tinggal menyerahkannya kepada Allah.”

Sasti tertunduk, untuk kesekian ribu kali air matanya mengalir. Sudah tujuh bulan semenjak kecelakaan itu. Arman terluka parah terutama di bagian kaki dan tangannya. Bahkan dokter menyarankan agar mengamputasi kaki kanannya. Banyak saraf dan otot yang hancur di area betis kanannya. Arman bergeming, dia tak ingin kehilangan kakinya.. Dokter sudah memperingatkan bahwa terapi dan obat-obatan memang sedikit membantu tapi tidak akan menyembuhkan kakinya seperti sedia kala.

**
“Di mana Sayang?”
“Aku di Rumah Sakit, jadwal terapinya Arman, Sayang.”
“Arman lagi Arman lagi. Denger ya Sas, udah berapa kali sih aku bilang,  aku udah muak liat kamu terus-terusan merhatiin cowok lain dibanding aku!”
“Do, jangan gitu dong. Kamu tau kan Arman kayak gini karena aku.. jadi udah sewajarnya aku ngurusin dia sampai sembuh. Lagian sekarang kemajuanya udah pesat kok. Arman udah bisa…”
“Stop Sas! Aku gak mau denger soal Arman lagi. Aku juga udah gak mau denger apa-apa lagi dari kamu. Sekarang silakan kamu urus aja cowok itu.”
“Maksud kamu apa Do?”
“Putus. Kita putus Sas, sekarang kamu bebas merhatiin dia.”
“Do..”

**
“Ihhh itu sih bukan huruf S, itu sih Z tau!”
“Hahahahaa kebalik ya, oh harusnya dimulai dari titik ini.”
“Iya, ditarik ke kiri, nah gitu.”
“Kamu jangan cuma gini-gitu-gini-gitu. Ikut nulis juga dong.”
“Iyaaaa…. Siniin bolpennya.”

Marini tersenyum dari balik pintu kamar. Sudah sebulan ini sikap Arman mencair. Usaha Sasti tidak sia-sia, dia mau pergi terapi. Seminggu tiga kali, bahkan Sasti harus izin dari kantornya agar bisa pulang lebih cepat dan bisa menjemput Arman. Sikapnya terhadap Sasti juga melunak, bahkan kini mereka sedang belajar menulis menggunakan tangan kiri.
Kondisi tangan Arman memang tidak separah kakinya. Tapi akibat tertimpa badan CBR berwarna hitam itu, pergelangannya sedikit retak. Masih harus digips hingga beberapa minggu ke depan.

**
“Ma, aku sayang sama Arman.”
“Sayang sama kasihan itu beda tipis Sas.”
“Gak Ma, ini bukan kasihan. Ini memang sayang. Aku sayang dia selayaknya seorang wanita terhadap seorang pria.”
Mamanya hanya menggeleng pelan. “Sekarang gimana keadaannya?”
“Alhamdulillah, sesekali udah bisa pakai kruk. Cuma karena tangannya juga masih sakit jadi sekarang masih pakai kursi roda.”
“Kalo kesana, salamin buat Arman dan Ibunya ya. Bilang maaf karena Mama gak pernah jenguk lagi.”
Sasti tersenyum senang.

**
Arman meringis, kakinya kembali sakit. Sasti dan Ibunya segera membawa Arman ke Rumah Sakit.

“Bu, obat-obatan ini cuma membantu meringankan sakitnya. Arman harus dioperasi lagi.”
“Gak dok, saya gak mau diamputasi. Saya akan sembuh tanpa harus kehilangan kaki saya!”

**
“Tante, nanti kita ijin jalan ke luar ya.”
“Apa? Arman mau pergi ke luar?”
“Iya Tante, kemaren Arman telepon, ada undangan makan-makan gitu sama teman-teman kuliahnya dulu.”
“Trus dia mau?”
“Iya, Alamdulillah sekarang Arman udah mau melihat dunia luar.”
“Berkat kamu Sas, semuanya karena kamu. Kegigihan kamu. Makasih ya sayang.”
“Bukan cuma aku Tante, Tante juga berperan sangat besar. Juga Arthur.”
“Iya nih, ngomong-ngomong Arthur kok minggu ini gak pulang ya?”
“Lagi sibuk nyelesein thesisnya kali Tan.”
“Gak tau tuh katanya tinggal revisi akhir tapi kok masih sibuk terus.”
“Wah berarti bentar lagi jadi dong bikin firma hukum. Arman and Brother apa Arthur and Brother? Atau the Brother namanya?”
“Lah kok jadi kayak nama band. Kamu tuh bisa aja Sas.”
“Hahahahaa iya, trus udah dihubungin pulang apa gak gitu?”
“Tadi sih udah sms tapi belum bales. Padahal kita mau ada syukuran.”
“Syukuran apa Tan?”
“Syukuran kesembuhan Arman. Tante pengen kumpul juga sama keluarga besar. Apalagi sekarang Arman udah mau membuka diri. Gak diem terus di kamar.”
“Iya, dari tadi juga tuh asik duduk di teras belakang, main sama kucingnya.”

**
“Cowok tuh ya kalo dasarnya udah ganteng, mau di kursi roda sekalipun tetep ganteng ya.”
“Iya, Arman emang ganteng dari dulu, mantannya aja ada berapa coba? Gua aja sempet klepek-klepek ama dia.”
“Hihihiii iya ya, agak gemukan dia sekarang. Mungkin karena diem di rumah ya belum kerja. Padahal dulu dia sibuk bener deh. Diajakin ketemu aja susah.”
“Bener, gemukan terus ada jambangnya segala. Messy-messy gimana gitu ya. Duh kalo gak liat ceweknya itu gua mau nyekil lgi deh.”
“Ah lo ada-ada aja. Eh iya, itu katanya cewek yang nabrak dia ya? Trus si Amel ceweknya dulu gimana? Terakhir ama dia kan kita ketemu sebelum kecelakaan.”
“Si Amel udah kemana kali, gak mau nerima Arman setelah kecelakaan. Jodoh emang gak kemana ya, eh ternyata sekarang Arman pacaran ama cewek yang nabrak dia.”

Tiba-tiba ada suara flush dari toilet ujung. Sasti berdehem lalu ke luar dari toilet. Tiga wanita yang sedang bercakap-cakap di depan wastafel segera menutup mulutnya.

“Mampus lo, ceweknya Arman dari tadi ada di situ!”

**
Bendera kuning sudah dipasang Arthur sejak pagi. Sofa dan meja dikeluarkan.. Karpet digelar. Pukul delapan pagi jenazah Arman sudah dimandikan dan dikafani, seluruh keluarga dan kerabat berkumpul bersiap menyolatkannya.

Infeksi telah menjalar ke seluruh saraf kakinya. Perintah dokter untuk mengamputasi kaki Arman memang tidak dihiraukan.

Sasti masih terdiam di ranjang Arman, memeluk sweater yang terakhir dipakai Arman. Subuh tadi dia masih bercakap dengannya. Semalaman mereka berbicara di telepon. Sampai akhirnya Arman menutup telepon setelah menyuruh Sasti menunaikan salat shubuh. Dia membaca berulang kali pesan yang dikirim Arman. Aku mencintaimu. Hingga ujung waktu.

***

Senin, 06 Agustus 2012

Fan Fiction: Lex (Smallville)


Lex: Sepenggal Kisah

“Lex kau harus tenang, ini tak akan menyakitimu..” seru dr. John.
Lex tetap meronta-ronta mencoba melepaskan pengaman jaketnya.
“Sudah suntik saja di mana kau suka dok..! Jangan biarkan dia melepaskan ikatannya” seru Lionel kepada dokter John.
“Tapi akan berbahaya jika menyuntikannya bukan pada bagian yang tepat Mr. Luthor” seru dr. Silver sambil memegang tangan Lex.
“Ini bukan serum sembarangan! Akan fatal akibatnya jika kita salah tempat” dokter John menimpali.
“Jadi kau akan membiarkan dia melepaskan pengamannya? Cepat berikan padaku!” Teriak Lionel seraya mengambil jarum suntik dari tangan dokter Silver.
Dan blesss… Lionel dengan segera menyuntikan serum yang ada di tangannya ke dada kiri Lex.
“No….” Pekik dr. Silver
“Aaaaa….” Lex berteriak kesakitan.
“Kkkaauu sengaja kan Yah….menyuntikan serum itu ke jantungku…?” erang Lex.
“Aku tak punya pilihan lain anakku..”
Seketika kesadaran lex hilang. Kini pikiran alam bawah sadarnya yang menguasai.


Lex berada di sebuah taman, duduk di bangku tepat di depan danau buatan di sisi kota Smallville. Anak-anak kecil sedang berlarian saling mengejar,
“Dee..tunggu..”
“Ayo Bee cepetan larinya..”
Di sampingnya dr. Keane seorang psikiater terbaik dari Belle Reeve yang sengaja ditugasi untuk membantu penyembuhan Lex.
“Apakah tugasmu menemani orang gila dokter Keane?” tanya Lex.
“Secara job desk sih gitu lex..” jawab dr. Keane datar.
“Apakah aku termasuk orang gila itu dok?” tanyanya lagi.
“Ya…secara prosedur sih gitu lex..” jawabnya lagi tetep datar.
“Iya juga ya, masa aku yang dokter dan kamu yang gilanya…” goda lex.
“Secara logika sih emang gitu lex…”jawabnya lagi masih datar.


“Dok, secara ya..aku ini dianggap gila dan kamu adalah dokternya, kenapa dari tadi aku yang bertanya, bukan dokter? Bukankah secara prosedur harusnya aku yang ditanyai oleh dokter, dokter menggali isi hati dan pikiranku, bukan aku yang nanya dokter te
rus…” seru Lex kesal.
“Hahahaa…baguskan caraku menggali isi hati dan pikiranmu lex…kamu jadi kepancing kaann? Secara gitu loh Keane…”ujar dr. Keane bangga.
Lex hanya berkerut seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil membuang muka.
“Ya ampun gitu aja marah Lex…Okay tadi aku cuma ngetes aja, apa kamu bener introvert dan anti social seperti yang Lionel katakan.”
“daaannn??”
“Ah menurutku sih gak juga, buktinya kamu udah berani goda-goda aku, sayang ya secara status kamu tuh orang gila, padahal kalo diliat-liat kamu lumayan juga..putih, kurus, pribadinya juga oke” ujar dr. Keane sambil tersenyum matre.
“Maksud lo?”
Dokter Keane dan Lex terdiam untuk sesaat dan tertawa kemudian.
“Hahahaaa..secarra secarra melulu.. kamu tau dok kalo aku jarang tertawa? Bahkan anak-anak Smallville dulu sampe taruhan untuk siapa yang bisa foto aku sambil tertawa..”
“Masa?”
“Yaaa…begitulah…kebetulan aku tinggal di Mansion yang gak jauh dari perkampungan Smallville, sebenernya aku gak punya banyak temen. Waktu aku kecil aku banyak ngabisin waktu untuk baca buku dan main anggar, kadang ikut les piano..”


Sesaat Lex berhenti dan mengambil kopinya. Sambil mengingat pengalaman masa kecilnya.
 


“Waktu itu aku baru selesai les piano, ayahku lupa menyuruh sopir untuk menjemputku. Sebenarnya aku senang karena aku jadi bisa jalan kaki sambil melihat anak-anak di sekitar Smallville bermain. Tiba-tiba hujan turun aku dan Sean temanku lari mencari tempat berteduh. Setelah berlari sekitar 1 blok, aku memutuskan berteduh di depan pintu sebuah toko coklat yang sudah tutup. Tak berapa lama ketika kami sedang berdiri di sana, pintu toko terbuka dan keluar seorang wanita paruh baya.


“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya.
“Kami sedang berteduh, bolehkan?” jawab Sean.
“Tapi kenapa kalian berteduh di depan sini?” tanyanya lagi.
“Ya masa kita berteduh di bawah pohon bambu itu..kan serem..” jawab Sean lagi.
“maksudku, Kkenapa kalian tidak memijit bel ini, ayo masuk nanti kalian masuk angin!” serunya.


Ternyata tempat itu adalah sebuah ruko, bagian bawah dipakai sebagai toko dan lantai atas merupakan rumah yang ditinggali oleh keluarga ini.
“Kamu bukannya putra Lionel Luthor?” Tanya wanita itu.
Lex hanya mengangguk.
“Aku Laura Lang suamiku Lewis Lang bekerja di Luthor Corp. Dan ini Lana.” sambungnya lagi.


“Lana?” Tanya Lex lagi.
Tiba-tiba seorang gadis cantik bermata indah keluar dari pintu kamar. Rambutnya hitam sebahu. Matanya abu kecoklatan dengan senyuman yang sangat manis.
“Lana..” gadis itu mengulurkan tangannya ke arah Lex.
“Lex”
“Sean”
“Kalian mau aku buatkan coklat hangat?” tanyanya halus.
Sean mengangguk. Lex hanya terpaku melihat Lana.
Belum sempat Lex puas menatap Lana, Sean sudah menghabiskan coklat hangatnya, ponsel Lex bergetar. Ayahnya baru inget kalo dia lupa untuk menyuruh sopir menjemput Lex. Setelah menyebutkan alamat ruko itu, tidak lama Porsche Lionel sudah sampai untuk menjemputnya. Setelah berpamitan mereka bertiga pulang.


“Aku belum pernah melihat gadis secantik dia” ujar Lex setelah mengantar Sean.
“Siapa Lex? Sean?” tanya Mr Xavi sopirnya, heran.
“Bukan…tapi Lana..ah sudahlah ayo cepat jalan! Kau menyetir seperti nenek-nenek saja!”
“Sorry Lex”


***
Sejak awal perjumpaan dengan Lana. Lex sangat yakin, dengan kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki, dan fakta bahwa Lewis Lane ayah Lana bekerja di Luthor Corp tentu dia akan dapat memiliki Lana dengan mudah.


Tapi ternyata keluarga Lana bukan gadis yang matre dan mudah untuk dipengaruhi. Mr Lane merasa lebih baik kehilangan pekerjaannya daripada menyerahkan Lana kepada keluarga Luthor. Lana pun sudah mencintai Clark sejak kecil. Hingga Lana masuk Met-U dan Clark masuk Kan-U Lex tidak bisa mendapatkan Lana.


Bukan tanpa perlawanan, Lex dapat membuat Keluarga Lang terpaksa untuk menjual ruko dan dia beli untuk kemudian dia jadikan kedai yang sekarang terkenal dengan nama Talon. Lex tidak pernah mendapatkan hati Lana.


Sampai suatu hari Lex bertemu seorang gadis cantik berkaca mata, berlesung pipit dan mampunyai senyum yang sangat menawan. Suaranya lembut dan agak sedikit pemalu. Bukan hanya kecantikan luar yang memukau Lex tapi kepintaran dan hati gadis itu yang dapat mambuat Lex jatuh cinta lagi dan dapat melupakan Lana.


***
“Layla namanya dok.. Dia sangat….ah..aku sangat mencintainya dok..” sambungnya.  “Tak ada lagi yang mampu menggantikan dia..” Lex menunduk sedih.
Dokter Keane hanya menganggut. “Wah gak ada kesempatan buat gue dong..” ujarnya dalam hati.
“Apa yang terjadi dengannya?”
Lex hanya terdiam.
“Apa dia juga mencintai orang lain?”
“Tidak, kami saling mencintai….”
“Tapi?”
“Dia meninggal, dia mengidap penyempitan katup jantung. Meninggal setelah pemasangan balloon valvuloplasty. Kami sedang mempersiapkan pernikahan..” Lex semakin menunduk.


“Apa dia yang membuatmu menjadi pasienku?”
“Dok… apa menurutmu aku ini gila? Aku rasa aku hanya sedikit putus asa. Apa karena aku sempat tinggal di jalanan, berjalan tidak tahu arah, aku disebut gila?”
“Kau tau dok? Ketika Layla meninggal dunia, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku merasa Tuhan tidak adil. Dia tidak pernah membiarkan aku bersama orang yang kucintai. Ibuku, Lana dan sekarang Layla. Setelah pemakamannya aku berjalan tanpa tujuan. Aku berjalan sampai ayahku sendiri tidak mengetahui keberadaanku. Aku masuk dan keluar dari setiap kota sampai akhirnya sampai di kota kecil bernama Jatinangor, entah di mana itu. Aku baru sadar kalau bajuku sudah kumal, bau badanku tidak sedap, ternyata parfum yang kupakai hanya bertahan beberapa minggu saja. Berat badanku susut, mungkin karena aku jarang makan, aku bahkan tidak ingat terakhir kali aku makan di mana..”
Sesaat Lex membenarkan posisi duduknya.


“Aku mulai tak peduli dengan keadaan sekitar, kadang aku ingin tertawa, kadang aku ingin menangis. Kadang orang yang kebetulan lewat melemparkan beberapa koin ke arahku. Pernah seorang wanita berbaju merah dan membawa tas besar berwarna merah juga melemparkan sekeping koin 50 sen. Mungkin dia anggap aku ini gelandangan, emangnya aku terlihat seperti gelandangan?”


“Aku sedang duduk di pinggir sawah ketika anak buah ayahku menemukanku. Mereka menyeretku ke dalam mobil, beberapa orang menyaksikan kejadian itu, sebagian jijik, sebagian tertawa dan sebagian tak peduli.”
“Seorang pria menyuntikan sesuatu ke dalam tubuhku, dan aku baru tersadar ketika sudah sampai di Belle Reeve.”
Sejenak Lex membuang pandangannya ke arah dua gadis cilik yang masih bermain.
“Apa yang sekarang kau inginkan Lex?” tanya dokter Keane.
“Menyusulnya, dia bilang dia akan selalu setia kepadaku dan akan selalu mencintaiku. Dia wanita yang sangat tulus.”


***
“Lex sadarlah lex…!”seru dr. Silver.
“Kita harus mengejutkannya!” jawab dr. John tak kalah kencang.
Semua peralatan kedokteran tercanggih digunakan untuk menyadarkan Lex..


***
Pada hari pemakamannya, tidak banyak orang yang diizinkan hadir. Hanya ada Lionel yang tertunduk menyesali perbuatannya dan baru sadar bahwa dia tidak memiliki siapapun lagi di dunia.