Minggu, 05 Agustus 2012

Cinta Segitiga


Tuhan, aku serahkan jalanku kepada-Mu. Biarkan serakan hati ini menyublim menjadi zat yang lebih kuat. Apa yang kau beri, apapun akan kuterima. Ku yakin, Kau punya rencana besar untukku.



Aku tak pernah berpikir bagaimana nanti aku bertemu dengan jodohku. Tidak, kejadian ditabrak mobil mewah ketika nyebrang di jalanan sepi oleh pria cakep-muda-single-galak-tapi-lama-lama-sayang-dan-posesif atau nyasar di desa lalu naik delman yang dikusiri pemuda tampan-bersih-pinter-lucu-yang-ternyata-anak-bangsawan-tapi-lagi-nyamar-jadi-orang-miskin-untuk-dapetin-gadis-tidak-matre seperti di FTV tidak pernah terlintas di benakku. Akupun tak pernah mengkondisikan. Tidak seperti salah seorang sahabatku yang sengaja cabut ke Bali agar siapa tahu bisa ketemu Bli yang menyelamatkannya saat belajar surfing lalu mereka.. ah sudahlah tidak usah dibahas. Hehehe.


Sore itu aku terpaksa berjalan kaki menyusuri jalanan berbatu miring-miring di sisi kiri Jalan Cihampelas. Tak kuasa rasanya lidah ini menamakan trotoar. Baru saja aku meraih tiang spanduk karena hampir terpeleset, suara klakson  motor meneriaki karena kakiku hampir menyenggol bannya. Apa? Kakiku yang hampir menyenggol bannya? Entahlah, kalimatku meluncur tak keruan, sekacau lalu lintas sore itu, seruwet pikiranku hari itu.


Aku terpaksa turun dari angkot karena jalanan macet total, aku harus ke Ciwalk membeli sekotak donat pesanan Ibu yang akan segera diberikan kepada menantu kesayangannya yang sedang ngidam. Untuk sekadar info, titah Ibu setara dengan titah Presiden. Harus segera dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Maka, aku yang sedang berleha-leha di kost temanku di sekitaran Cisitu lalu segera beranjak. Berhubung motor sedang diservis, jadi aku harus rela ngetem hampir sejam di angkot yang sedang kutumpangi. Dan menghadapi macet di Cihampelas yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari, tak kuasa aku harus segera turun dan berjibaku di antara lautan kendaraan. Oke, ini lebay. Tapi biarkanlah drama queen yang satu ini bebas menyuarakan kekesalannya.


Salahku sendiri sih lupa mengganti oli, jadi tadi pagi kuserahkan motor kesayanganku itu kepada montir-montir di bengkel langganan. Runtutan audit internal, eksternal, mengurus ISO membuatku kewalahan berbulan-bulan ini. Jangankan untuk merawat motor, merawat diri sendiripun sudah tak sempat.


Potongan rambut yang sudah tak keruan membuatku harus mencepolnya setiap hari. Kuikat sekenanya, yang penting tidak terlalu awut-awutan. Beberapa teman mengomentari penampilanku sebagai apresiasi patah hati setelah ditinggal menikah oleh kekasih hati. Ya begitulah, awal tahun ini pacarku, maaf, mantan pacarku menikah dengan wanita lain. Saat itu kami baru putus sekitar tiga bulan. Entah dewa move on mana yang membuatnya secepat itu bisa memutuskan segera menikah, sementara aku masih dalam suasana kalut dengan asa kembali padanya.


Sudah berpacaran selama dua tahun tentu saja bukan hal mudah bagiku untuk berpisah dengannya. Bahkan aku sudah berkhayal akan menikah dengannya akhir tahun ini. Aaakkkkk…. Tidak adil sungguh! Air mataku bisa langsung mengalir deras jika ingat hal ini. Maka pekerjaanlah yang menjadi pelarianku. Semua audit dan ISO kulahap dengan rakus. Ada beberapa yang mencibir kalau aku sedang mengincar posisi di samping general manager. Peduli setan, terserah mereka bilang apa, aku hanya ingin mengenyampingkan sakit di hati ini.


Lalu disinilah aku sekarang, bermuram durja dengan sekotak donat di lengan kanan. Ibu baru saja menelepon kalau donat pesanannya sudah dibelikan abangku. Kakiku tadi hampir terkilir ketika harus berjalan dari SMA 2 sampai sini. Ditambah beberapa kali tersenggol motor yang pengemudinya tak dianugerahi kesabaran.


“Ra, Rara!”
Seseorang memanggilku. Saat kutoleh, ternyata ada Lisa teman SMP dulu. Di sampingnya seorang pria tampan berkemeja coklat dengan kacamata frameless. Cobaan apalagi Tuhan, di saat keadaanku kacau begini aku dipertemukan dengan sepasang manusia yang begitu sempurna. Lisa adalah sahabatku yang paling cantik. Semenjak bangku SMP dia sudah menjajal dunia modelling. Dan sekarang nampaknya berpacaran dengan pria super tampan yang pernah kutemui. Oke, ini lebay. Pria ini sebenarnya termasuk pria dengan standar ketampanan normal, tinggi sekitar seratus tujuh puluh lebih dikit, berkulit coklat, berhidung mancung, alis tebal dan mata coklat yang berbingkai kacamata. Dan satu lagi, dia looks totally straight. Ngerti kan?


“Hei Lis, apa kabar? Makin cantik aja deh.” Kataku tulus. Dia memang makin memesona. Badannya ramping, kulitnya mulus, rambutnya hitam tergerai dengan sedikit wave di bagian bawahnya. Olesan make up tersapu tipis, tapi tetap stunning.
“Bisa aja  si neng.” Katanya tersenyum ramah. “Sendirian?” lanjutnya. Eerghh kenapa pertanyaan basa basi kedua tertinggi versi wanita cantik ini-dan-mungkin-hampir-seratus-juta-rakyat-indonesia adalah Sendirian atau Ama siapa?!
“Iya, disuruh Ibu beli ini.” Jawabku sambil memperlihatkan keresek donat.
“Duh emang anak baik lu yaa, apa kabar Ibu? Sehat? “
“Alhamdulillah sehat Lis.”
“Oiya, kenalin nih Bayu.”
Pria yang dipanggil Bayu menyodorkan tangannya, senyum tipis dilemparkan kepadaku. Oh tidak, kenapa paham tanaman tetangga indah rupawan muncul lagi di benakku. Seketika adrenalinku memuncak, aliran darah terpompa lebih kencang dan sepertinya agak tersendat di otakku. Tak ada oksigen yang dapat kuhirup. Tatapan pria itu seperti menghunus jantungku. Tidak, kenapa aku selalu tertarik pada pacar orang?!


Sedikit kubocorkan ya, entah kenapa pria yang sudah punya pacar selalu mendapat perhatian lebih dariku. Mereka seperti mempunyai magnet lebih yang bisa menarik pikiranku dan lalu menyumbat otakku. Begitulah, lalu aku akan jatuh cinta pada mereka. Berkali-kali aku terjebak dalam cinta segitiga. Kadang aku mengutuki diri sendiri mengapa selalu ingin bersama pacar orang lain. Tapi aku tak pernah jatuh cinta pada kekasih temanku. Harap dicatat baik-baik. Sammy, mantan pacar terakhirku, itu loh yang baru tiga bulan putus dariku lalu menikah dengan perempuan lain, itupun dulunya pacar orang lain. Maksudnya, ketika pertama kali bertemu sampai PDKT dia masih berstatus pacar orang. Ketika dia meninggalkanku aku merasa itu karma terbaik yang kudapat. Dan kini, hati dungu ini kembali merasa klepek-klepek melihat pacar orang, pacar temanku sendiri. Tidak!!


Setelah melanjutkan basa-basi, Lisa pamit pulang. Diciumnya kedua pipiku dan tak lupa menyampaikan salam untuk ibuku.
“Eh Ra ampe lupa, minta pin bb dong.”
“Oh, nih invite gua.” Kataku seraya menyebutkan delapan digit kombinasi angka dan huruf.

**
PING!
Raraaaa…
Iya Lis…. Kenapose?
Aku kasi pin bb kamu yahhh
Ke siapa?
Bayu… masi inget ga?


DEG. Bayu, ya masi inget lah! Pria yang seminggu ini ada di benakku. Mengisi otakku di sela tumpukan pekerjaan. Senyumnya terpatri setiap aku hendak memejamkan mata. Acap kali membuatku merona sampai kemudian senyum Lisa ikut melompat-lompat di antaranya. Menghancurkan semuanya. Ummm bukan gitu maksudku sih, aku gak bermaksud jahat pada Lisa, makanya pemikiran tentang si Bayu ini berat-berat kuusir sejauh mungkin. Ya tapi apa mau dikata, makin kuat kudorong, makin kokoh dia bertengger di pikiranku.


Oiya, masi inget. Ngapain pacar kamu minta pin aku?
Pacar?
?
Huahuahahahahhaaaa =)) kamu ngira Bayu pacar aku??
?
Hahahahahahahhahaa =))
Lisa…..
Sorry.. sorry.. Gak kok, Bayu bukan pacarku. Dia sahabat aku waktu kuliah…
Ohh… kirain hehe                                                                                                                    
Jadi gimana nih, boleh kan aku kasi pin kamu?
Hehehe
Apa lu hehe hehe?? Suka juga yaaaaa…..
Paan sik Lis!
Jie jie….


Tring. Tak lama blackberryku bunyi. Notifikasi ajakan berteman, di situ tertera nama Bayu Rahmadi. Setengah mati aku mencoba untuk bernapas normal. Tubuhku mengigil. Entah sudah berapa lama tubuhku tidak senorak ini. Dengan bibir tergigit kutekan accept. Jantungku berdegup kencang. Entah apa yang harus kulakukan. Tidak, aku tidak akan memulai percakapan duluan. Biar dia saja yang duluan, toh dia juga yang meminta pin bb-ku bukan? Jawab iya saja ya sodara-sodara!


Bersamanya aku seperti menemukan Rara yang dulu. Ceria, bersemangat, ramah pokoknya semua hal-hal positif dariku yang dulu sempat lenyap terbawa patah hati mendalam setelah ditinggal Sammy. Dulu kupikir dunia akan berhenti berputar setelah dicampakkan Sammy, tapi rupanya jalan hidup tak berakhir setragis itu.


Bisakah aku singgah di hatimu
Berharap sebentuk tempat yang tulus
Sesuatu yang kupercaya ada tersimpan di sana


Hampir setahun dekat dengannya, kami lalu berpacaran. Tak mudah bagiku untuk menerima seorang pria lagi dalam hidupku. Dia pria yang sungguh menyenangkan. Berada di dekatnya aku merasa aman tanpa kehilangan rasa nyaman. Keseriusannya akan hubungan kami sudah ditunjukannya sedari awal. Ia menemui orang tuaku, abangku, juga membawaku menemui keluarganya. Dia adalah pria terbaik yang pernah kutemui. Dia selalu mengingatkanku salat, dia rajin berpuasa. Ahhh tidakkah kalian setuju kalau dia memang dikirim Tuhan untuk membawaku ke jalan kebenaran? Iya iya, jatuh cinta sering membuat orang jadi lebay bukan? Atau hanya aku saja yang begitu. Terserahlah, yang pasti hidupku jauh lebih baik setelah bersamanya.


Kami selalu terbahak setiap mengingat awal pertemuan. Aku menyangka kalau dia pacar Lisa. Padahal saat itu Bayu sedang menemani Lisa mencarikan kado untuk Ramon kekasih Lisa yang juga sahabat Bayu.


Aku selalu menyelipkan namanya dalam setiap percakapanku dengan Tuhan. Bagaimana tidak, setelah kebandelanku selama ini Tuhan denganmurah hatinya memberiku sosok Bayu. Pria yang membuatku tak hanya jatuh cinta padanya, tapi juga pada Tuhan. Dia selalu mengingatkanku bahwa semua ini memang rencana Yang Maha Kuasa.


Pertemuan kami bukanlah suatu kebetulan. Mulai dari patah hatiku, lalu aku tenggelam dalam rentetan audit dan tektek bengek pekerjaan yang membuatku lupa menyervis motor, maka ketika Ibu menyuruhku membeli donat, aku harus susah payah menuju ciwalk. Waktu pertemuan kami sudah diatur oleh-Nya. Coba kita runut lagi, kalo misalnya Sammy tidak cepat move on dan malah kembali denganku tentu aku tidak akan bersama Bayu saat ini. –Yaiyalah-. Lalu aku juga tidak akan bekerja sekeras itu untuk mengalihkan sakit hatiku. Dan mungkin aku takkan lupa untuk menyervis motorku, jadi kalaupun aku disuruh Ibu ke Ciwalk, aku tidak akan terjebak macet. Dan aku akan lebih cepat sampai. Dan  aku takkan bertemu Lisa dan Pria di hadapanku ini.


**
Terlalu lama aku harus terdiam
Atau mungkin ku tak percaya sungguh
Akan kesempatan dan kemungkinan yang akan terjadi nanti
Karena ku yakin ada pintu yang terbuka
Di antara hatiku dan hatimu


It’s been years since we’ve met
And days had gone by
Now it’s time to make up my mind
And I hope that we can make it to the end


Bila firasat ini memang benar memilikimu adalah maksud
Dari sebuah rencana besar merubah hidupku


Jikalau aku harus berhitung benar
Akan kemungkinan yang bisa ada
Bila ku bisa memilikimu bahagialah aku


Bayu menyematkan cincin emas putih ke jari manisku. Setelahnya, giliranku. Bayu mencium lembut keningku kubalas dengan kecupan hangat di punggung kanannya. Seisi ruangan tersenyum bahagia, air mata yang menetes dari kedua orang tua kami sebagai tanda jatuhnya restu dari mereka. Seorang sahabat yang kupinta menjadi fotografer  meminta kami menunjukkan buku akta nikah ke arah kamera.


Ahh, betapa Tuhan mempunyai rencana besar yang sempurna. Dia menuntunku lagi-lagi  dalam cinta segitiga. Kali ini antara Aku, Bayu dan Tuhan.




Btw kalian tahu gak kalau aku dipromosikan menjadi vice general manager? Hahahahahahahaa =))

~Terinspirasi dari lagu Rencana Besar milik Padi

Selasa, 31 Juli 2012

Itu Aku

Sepulang kantor aku buru-buru ke salon, cuci blow dan sedikit merapikan potongan poni. Kemeja bagian punggung sudah basah kena keringat setelah seharian aku bolak balik kantor pusat-cabang mengurusi masalah ISO. Sepertinya aku akan mampir ke mall sebentar. Malam ini aku akan bertemu dia. 


Setelah membuatku kesal karena dua minggu yang lalu dia tiba-tiba menunda kepulangannya, ternyata hanya cukup satu kalimat langsung membuat luluh hatiku.

"Gw udah nyampe, ntar malem ngopi2 lucu yuks :)"

Ya, tiba-tiba saja dia bbm aku dan bilang kalo dia sudah ada di kota ini. Tak perlu lama tanda R menunggu segera kujawab. 

"Sippo"
"Dimana?"
"Jam berapa?"

Aku harus menunggu tak kurang dari dua puluh menit hingga R itu dibalasnya.

"Ntar dikabarin"

";)"

**

Sebelum turun mobil kurapikan lagi rambutku, parfum blueberry kusemprotkan lagi untuk kesekian kalinya. Entah kenapa sepertinya tidak tercium sama sekali olehku. Mungkin benar yang dikata orang, semakin sering memakai sebuah aroma parfum maka tingkat kepekaan pemakainya akan berkurang. Dosis pemakaian akan terus meningkat karena si pemakai merasa belum mencium aromanya.

"Yaang...!"

"Baraaa...!"

Kami berpelukan. "Aku kangen..." Kataku manja.

Dia mengucek rambutku. 

"Ihh rambut baru ini, aku baru dari salon!" Kataku manyun. Siapa tau dia mau menyamber bibirku. Ha!

Dia mencubit gemas dua pipiku. "Makin embem aja! Seneng ya kamu?"

Seneng? Tersiksa merindu kamu, kamu bilang aku seneng? Seneng apanyaaaa??
Dan tentu saja aku hanya membalas dengan senyum.

"Apa kabar kamu?"

"Great!"

"Bagus dong... Trus dalam rangka apa kamu balik kemari?"

"Nemuin wanita yang gua cintai."

Pipiku merona. 

**
"Perjalanan lebih dari dua belas jam, empat ratus tiga puluh enam kilometer. Jadi siapa dia?"

"Anak sini juga. Lo kenal kok."

"Iya, siapaaa?"

"Eh kok tau Bandung-Jogja 436 km?"

"Ummm..."

Obrolan hangat mengalir seperti dahulu. Dua sahabat yang saling mengisi. Bercerita tentang segala macam yang terjadi. Hal-hal konyol, tragis, memilukan semua terbungkus dalam gelak tawa sepanjang malam. Kalau tak ingat besok pagi ada meeting, aku pasti enggan untuk masuk ke mobil dan mengakhiri malam dengannya.


"Yakin mau nyetir sendiri? Biar nanti gua baliknya naek taksi."

"Gak usah, deket ini.."

"Ok, see you!"

"Good luck ya!"

"Mayang, makasih ya. Lo selalu ada buat gua."

***
Kulaju mobil dengan perasaan hampa. Terdengar suara Duta dari radio.

Ribuan hari aku menunggumu
Jutaan lagu tercipta untukmu
Apakah kau akan terus begini
Masih adakah celah di hatimu
Yang masih bisa ku 'tuk singgahi
Cobalah aku kapan engkau mau

Taukah lagu yang kau suka
Taukah bintang yang kau sapa
Taukah rumah yang kau tuju
Itu Aku...

Coba keluar di malam badai
Nyanyikan lagu yang kau suka
Maka kesejukan yang kau rasa
Coba keluar di terik siang
Ingatlah bintang yang kau sapa
Maka kehangatan yang kau rasa

Taukah lagu yang kau suka
Taukah bintang yang kau sapa
Taukah rumah yang kau tuju
Itu Aku...

Percayalah itu aku...


Bara..... Kapan kamu sadar kalau itu aku?

Jumat, 27 Juli 2012

Langit Tak Mendengar

~Ketika kamu membawa pergi cintaku, detik itu pula nyawa lepas dari ragaku.

*
Nasi uduk dan pecel lele di hadapanku sudah dingin tertiup angin malam. Kucomot kol goreng yang juga tak kalah dingin, melembek penuh minyak.
Hambar.

Sedari siang nasi uduk dan pecel lele sudah kuidamkan untuk santapan malam ini. Ditambah kol goreng dan teh hangat tentu menjadi surga kecil untuk perutku.

Dan entah kenapa, setelah pengamen tadi masuk dan bernyanyi di sampingku, rasanya selera makanku menguap begitu saja.

Pikiranku lalu melayang. Pada hidup yang selama ini kujalani.

Umur enam belas aku keluar dari rumah. Setelah pertengkaran hebat dengan Bapak. Beberapa bulan setelah luntang-lantung, kudengar kabar bahwa Ibu meninggal dunia. Aku datang ke pemakamannya, belum sempat menabur bunga ke pusara Ibu, Bapak sudah mengusirku. Amarahnya belum padam. Bahkan beliau menyalahkanku atas kepergian Ibu.

Tak ada lagi harapan untukku kembali ke rumah.

Aku juga meninggalkan bangku sekolah lalu akhirnya bertemu dengan kawan-kawan baru. Yang mau menerimaku. Aku tinggal bersama dengan mereka di rumah petakan. Jalanan menjadi tempatku mencari uang. Mengamen, membagikan brosur kredit, menjual koran. Oya, yang terakhir itu terhitung sukses. Sukses gagal. Iya, seharian aku berpanas-panasan paling hanya laku 1-2 eksemplar saja.

Mengamen lebih banyak menghasilkan uang, padahal suaraku tak merdu-merdu amat. Mungkin mereka terpesona oleh kecantikanku. Atau hanya sekedar kasihan. Jauh dari rumah, kini aku mulai mengenakan rok mini yang sejak dulu kuidamkan. Mana berani aku dulu emakainya di rumah, terutama di depan Ayah. Teman-temanku pun tak pelit meminjamkan lipstik dan eyeshadow.

Hasil mengamen di siang hari bisa setengahnya harus disetorkan ke Bang To'ink. Pelafalannya harus agak mendengung seperti mengucap 'ain dalam bahasa Arab. Kalau salah, dia bisa ngomel-ngomel. Dia preman di areaku mengamen. Katanya jika tidak setor, kita bisa digebukin. Aku sih belum pernah diapa-apain, karena selalu setor dengan jumlah lumayan. Kadang-kadang dia suka menggodaku sih, malahan suka mencubit pipiku. Aku hanya tersenyum saja menganggap angin lalu.

Kucoba mengamen di atas maghrib, hasilnya lumayan. Di sepanjang tenda-tenda makan di pinggir jalan, menemani mereka yang menyantap makan malam setelah pulang bekerja. Dan yang pasti, tidak ada potongan setengah penghasilan yang harus disetorkan ke Bang To'ink.

Beberapa bulan mengamen di malam hari ternyata aku bisa mengontrak petakan sendiri. Tidak lagi numpang bareng teman-temanku. Setidaknya sekarang aku bisa menikmati ruangan 2x2 meter milikku sendiri, bisa selonjoran sepuasnya, tak perlu mencium parfum menyengat milik Rebecca. Iya, si Rebecca, gak usah nanya nama aslinya siapa. Kamu akan terbahak seperti saat mengetahui nama asli vokalis band yang nama panggungnya berbau Belanda walau mukanya tak ada indo-indonya sedikitpun.

Kehidupan bahagiaku ternyata tak berlangsung lama. Suatu malam ketika selesai mengamen, aku nongkrong bersama teman-temanku. Tiba-tiba ada petugas Kamtib dan mengangkut kami semua tanpa ba bi bu. Sial!

Dua malam berada di panti sosial yang menurutku lebih seperti penjara busuk, aku dikeluarkan dengan jaminan atau sogokan entahlah apa, oleh temanku. Jordy.

Jordy anak rantauan dari Sulawesi. Bapaknya Ambon, Ibunya Manado. Silakan bayangkan pria sipit dengan hidung mancung berkulit putih dan perawakan tegap. Entah kenapa belum ada agensi yang merekrutnya menjadi model atau pemain sinetron hingga saat ini. Padahal ia sudah beberapa kali ikut casting.

Aku berkenalan dengannya di sebuah warung pecel lele. Saat itu aku dan temanku baru selesai mengamen, dia duduk di sebelahku memesan menu yang sama. Pecel lele, nasi uduk dan kol goreng. Karena malam sudah larut, kol goreng di warung itu sudah habis. Jordy yang mendapat jatah terlebih dahulu mau membaginya denganku. Padahal kamu tau sendiri kan, kol goreng di warung pecel lele itu cuma seuprit.

Tapi ya begtulah Jordy, dia mau membaginya denganku. Manusia yang bahkan belum dikenalnya. Sejak saat itu kami beberapa kali bertemu. Bertukar nomor telepon. Seperti cerita FTV ya?! :)

Setelah keluar dari panti sosial, Jordy melarangku mengamen malam-malam. Terlalu riskan dia bilang. Aku menurut saja. Pengalaman digaruk Kamtib seperti itu sungguh membuat trauma. Beberapa hari kemudian Jordy memberikan pekerjaan di sebuah salon milik temannya.

Di salon, sebagai anak baru aku diajari keramas yang baik dan benar. Lalu cara creambath. Beberapa kali Jordy menjadi kelinci percobaanku. Hihihihihi. Setelah lulus uji coba, akhirnya aku diberikan customer beneran. Wah ternyata dia suka dengan pijatanku. Tidak butuh waktu lama aku punya pelanggan tetap. Mereka ketagihan dengan pijatanku yang lembut namun bertenaga.

Memang sejak kecil aku sering memijit almarhum Ibu. Beliau suka sekali kupijit hingga tertidur. Bahkan ketika masuk angin atau pening-pening, Ibu tak butuh obat, cukup dengan pijatan anak sulungnya ini.

Ah waktu, begitu cepat berlalu. Ibu sudah tiada, kini aku seperti sebatangkara.

Hubunganku dengan Jordy makin dekat. Langgananku juga makin banyak. Tak jarang mereka member tip cukup besar sebagai ucapan terimakasihnya.

Setelah casting puluhan kali, akhirnya ia mendapat peran di sebuah FTV. Walau hanya sebagai figuran tapi honornya lumayan. Dan yang pasti membuka celah menuju impiannya selama ini.

Beberapa waktu berlalu, aku makin sayang padanya. Suatu siang aku memasak ikan rica-rica kesukaannya. Aku berniat membawanya ke lokasi syuting. Kotak makan siang kubalut dengan kain bunga-bunga berwarna biru muda, lalu kupitakan di atasnya. Persis seperti di serial korea favorit kami.

Bagai petir di siang bolong, seperti adegan di film hantu murahan, aku melihat Jordy bercumbu dengan pria lain. Dan itu bukan adegan dalam FTVnya. Karena mereka melakukannya di tempat tersembunyi, di kamar make up, tanpa ada lighting dan kamera. Hanya mereka berdua. Cuih!

Kulempar kotak makan siang ke arah mukanya. Jordy berusaha mengejarku. Tapi dia mengurungkan niatnya, tentu saja tak mungkin ia keluar mengejarku tanpa menggunakan celana.

Pertengkaran dilanjut di kontrakanku. Aku menampar wajahnya. Kupukul dadanya. Kudorong hingga menabrak pintu. Jordy melawan sambil memakiku. Bahkan ia mengatakan kalau aku yang sebenarnya berselingkuh. Dengan bosku di salon.

"Kamu yang sialan! Bencong murahan selingkuh dengan Mas Yance!" teriaknya.

Bencong murahan? Baru kali ini dia mengataiku seperti itu. Kutendang dia keluar dari rumah. Tak sudi aku melihatnya lagi. Aku menangis sejadinya.

Tiada lagi orang yang kucintai. Aku sendiri. Tak ada yang mengerti.

Air mataku mengalir, pengamen yang sedari tadi menyanyi mengulurkan bekas bungkus permen yang dijadikan wadah pengumpul pundi. Temannya tetap memetik gitar, mengalunkan lagu yang menyayat hati.

Jadi hidup telah memilih

Menurunkan aku ke bumi

Hari berganti dan berganti

Aku diam tak memahami



Mengapa hidup begitu sepi

Apakah hidup seperti ini


Mengapa kuslalu sendiri

Apakah hidupku tak berarti



Coba bertanya pada manusia

Tak ada jawabnya

Aku bertanya pada langit tua



Langit tak mendengar

Senin, 16 Juli 2012

STUPID MEMORIES ON SOMETHING STUPID BLA BLA

Bisa gak pake parfum ini tanpa inget kenangannya?

Bisa gak makan di sini tanpa inget kenangannya juga?

Beberapa waktu ke belakang saya pernah nulis tentang betapa parfum punya kenangannya tersendiri. Seperti yang pernah saya tulis, walaupun saya bukan kolektor parfum tapi ada beberapa lah yang majang di lemari kaca. Dan setiap aromanya punya kenangan masing-masing.

Kadang saya merasa sayang aja gitu, botol itu masih ada sisa setengahnya atau kurang. Tapi sampai saat ini saya belum sanggup untuk memakainya lagi. Padahal aromanya sungguh saya sukai.

Ya itu tadi, saya belum sanggup menghadapi kenangan yang akan terproyeksi saat saya menghirupnya.

Lebay? Yes. I'm a drama queen remember?

Pun dengan beberapa tempat. Terutama tempat makan. Ada beberapa resto yang masih berat untuk dikunjungi lagi. Selain alasan harga, juga karena kenangannya. Mejanya, menunya, aromanya, suasananya..yang dulu sempat menjadi favorit.

Sempat. Itu kata kuncinya. Mungkin sampai saat ini masih menjadi terfavorit. Tapi ya itu tadi, apa saya sanggup makan di tempat itu dengan hati yang berbeda?

Rempongnya menjadi drama queen. Tsk.

Stupido. Pido.

Kamis, 05 Juli 2012

Flash Fiction: Senja - Apartment


“Awas kalo ngintip!”


“Gimana mau ngintip, ini iketannya kenceng begini juga.”


“Siapa tau lu bisa liat lewat celah-celah di bawah idungnya itu”


“Kalo ada celah, tadi aku ga akan kesandung!”


“Ihh bawel banget sih, udah nurut aja. Sekarang maju, maju lurus tapi agak serong kiri dikiit aja.”


“Nyuruh serong segala, katanya aku jadi cowok harus setia. Gimana sih kamu tuh gak konsisten jadi cewek.”


“Serong, miring maksudnya. Bukan serong selingkuh!”




Aku tergelak ketika dahinya terjeduk mini bar.



“Kamu nyulik aku dari kantor sore-sore gini, disuruh pake tutup mata padahal udah jelas, kamu bawa aku ke apartmentku sendiri. Kamu tau gak, aku lagi nyiapin laporan buat besok pagi? Data dari bagian QA baru dateng jam 2 siang tadi. Kalo aku gak diculik-culik kaya gini, laporan itu bisa selesai jam 8 malem ini. Aku bisa tidur nyenyak sebelum besok ketemu Pak Menteri. Tau?”


“Kalo nanti malem kan lu sibuk.. gak bisa gue ganggu.”


“Nanti malem kan aku mau nyelesein laporan.”


“Berisik ah, nah duduk situ nah iya. Diem di situ. Tangannya jangan gerak-gerak!”
Dia masih ingin berceloteh tapi geramanku menghentikannya.



“Sekarang buka iketannya!”


“Happy birthday! “
Sebuah tart bertabur cha cha warna warni dengan lilin berjumlah tiga puluh satu.



“Kamu pasti lupa kalo ini hari ulang tahun kamu!”
Dia masih terkejut. Bingung. Ahh senangnya bisa membuat dia terbengong-bengong seperti ini. Kejutanku sukses.




“Ulang tahun aku kan besok..”



“Hah?” kini giliran aku yang terkejut. Kulihat layar blackberry. Tertera tanggal 23 Oktober. “Beneran kok tanggal dua tiga…”


Dia terpingkal-pingkal. “Baru dijailin gitu aja udah kaget…”


Aahhh…. Menyebalkan, aku terkena lagi tipuannya. Kucubit lengannya. Kupukul bahunya.


“Nyebelin banget sih, gue udah cape-cape bikin kue kaya gini malah dijailin..”


“Uuuh sayaangg…..” katanya tersenyum menggoda seraya menyalakan satu persatu lilin. “Aku make a wish dulu nih ya, sebelum tiup lilin..”


Wusss. Aku  membantunya meniup lilin. Semua lilin sudah padam. “Semoga permintaanku terkabul ya.”


Aku mengangguk. “Sekarang potong kuenya, liat dong kue apa ini…” kuserahkan pisau kue yang kupegang sedari tadi. Segera dia meotongnya.


“Wah rainbow cake! Beneran ini kamu yang bikin?” tanyanya  penuh curiga.


“Iya dong, semalaman gue nikin tau, ampe gak tidur! Bagus kan?”


“Bagus sih, tapi gak tau deh, enak apa enggak.”


“Berani kamu bilang gak enak awas aja!” seruku sambil mencomot cha cha berwarna merah.


“Heh, maen comot-comot aja. Itu yang merah punya aku!” tangannya menepis cha cha merahku. Sedetik kemudian kami hening. Saling berpandangan.



Cincin putih yang melingkar di jari manisku dan jari manisnya berdampingan. Seolah membuyarkan kebahagiaan kami.




Aku segera melirik swiss army di lengan kiri. “Udah abis waktunya, gue balik dulu ya!”



Dia masih terdiam. Kudaratkan kecupan di pipinya. “Happy birthday ya, semoga pernikahan kamu nanti lancar.”

***


Sayang, kamu pulang kerja jam berapa? Jadi kan ya nanti malem kita rayain ulang tahun kamu. Miss you!

Flash Fiction: Senja - Taman


“Kak kenapa pikniknya sore sih? Kenapa gak pagi-pagi?”


“Namanya juga Senja. Ya sore-sore dong.”


Beralas tikar, di bawah pohon-pohon rindang di taman kota. Diskusi ringan buku senja yang baru dilaunching berlangsung hangat. Diiringi petikan gitar seorang sahabat, Senja larut dalam dunianya.


Sesekali ia tertawa riang. Matanya bercahaya.


Ingin sesekali aku menjadi angin  yang membelai lembut rambutnya, menerpa halus kulitnya.


“Hey!”
Lamunanku buyar, gadis itu sedah berdiri di hadapanku.


“Eh nona manis udah selesai diskusinya?” Beberapa peserta tertawa menggoda ketika melewati kami. “Udah cantik, pinter lagi… makin cintaa deh.” Dia hanya meninju pelan lenganku. Lalu mendelik dan meninggalkanku.


“Tuh kan udah ditemenin malah ngeloyor gitu aja.”


“Genit bener sih lu jadi orang! Males gue”


Aku menarik lengannya. “Siapa yang genit sih? Aku kan cuma berkata jujur sayang”


Dia melepaskan tanganku. “Sayang-sayang, semua cewek aja lu panggil sayang. Gombalan lu gak ngepek buat gue. Basi!”


“Tapi aku serius tau sama kamu. Sumpah.”


“Whatsoever.”


“Kamu kenapa sih, ga pernah percaya sama aku?”


“Ngomong apa sih lu? Males ah.”


“Kamu tuh ga pernah ngasih aku kesempatan sih.”


“Kesempatan? Dana umum? Maen monopoli sana!”


Tarikkan tanganku kini agak erat agar kali ini dia menghentikan langkahnya. Mendengarkanku baik-baik.


“Kayaknya kamu akan lebih ngasih 2-3 kali kesempatan bagi pria brengsek manapun kecuali aku.” Dia bengong atau bingung, entah. “Iya, kamu akan menerima pria brengsek manapun yang akan main-main sama kamu, bahkan bisa ngasih kesempatan lagi untuk dia nyakitin kamu. Tapi kamu gak akan pernaah ngasih aku kesempatan untuk menunjukkan keseriusan aku. Iya kan?”


“Udah selesai ngomongnya?” dia menghentikan taksi. “gue ada perlu dulu, daah.” Lalu meninggalkaku begitu saja. Dengan segala kekesalan.

Rabu, 04 Juli 2012

Flash Fiction: Senja - Pantai


Pada suatu senja di bulan Mei. Gadis itu terpaku di tepi pantai, mencium rakus amis laut dan menatap lurus ujung horison. Garis batas langit dan laut.
Jemari telanjang menelusup ke dalam pasir. Hangat. Kulit melegam terpanggang matahari. Sudah seharian dia belum juga beranjak.


Secarik surat ada dalam genggamannya.


Pada senja kutitipkan sebuah kehangatan
Penantian akan pulang
Sirnanya kesenduan
Cinta


Gadis itu lalu berdiri. Mendekap surat dalam-dalam. Tersenyum ke arah surya yang tenggelam. Berjalan menuju tepian pantai. Senyumnya mengembang. Terus melangkah. Riak-riak ombak tak menghalanginya. Berat-berat kakinya terus bergerak. Air laut sudah sampai sedadanya.


“Nona! Berhenti Nona!!”