Minggu, 18 Maret 2012

elegi patah hati

Aku tak mengerti, mungkin sudah menjadi hobi mengejar sesuatu yang tak pasti.

Aku tak paham, mungkin sudah menjadi kebiasaan bercinta dalam diam.

Menyadari tak dapat kuraih
Kini aku baru mengerti apa artinya perih.

Menyadari kamu tak kudapat
Kini aku baru mengerti tentang genggaman erat

Lalu aku kan tertidur
Dengan rasa yang harus terkubur.



Dan kau takkan lagi menghibur.

Kamis, 15 Maret 2012

Kala Memilih

Kamu berdiri di samping balkon restoran favorit kita. Mengenakan kemeja hijau dengan celana berwarna khaki. Mempesona. Seperti biasa.

"Adrian.." Panggilku laun dari balik pintu teras. Beberapa meja masih kosong. Hanya ada sepasang anak muda yang sedang asyik dengan gadgetnya di meja pojok.

Kamu membalik badan, tersenyum padaku. Membelakangi bukit dengan rimbunan pohon cemara yang mulai dihinggapi kabut. Pemandangan yang indah. Mungkin karena ada kamu disitu.

Senyummu yang mengembang lalu menguncup dengan dahi terkerut. "Ada apa sayang?" Tanyamu melihat mataku yang sembab.

Air mataku mengalir lagi. Berat sekali.

Kuhela napas dalam-dalam. "Aku mau pamit." Kataku tertunduk.

"Kemana?" Tanyamu sembari mengelus rambutku, mencoba mengadahkan kepalaku.

"Aku mau balik ke Seattle." Kataku lirih. Mataku tertutup. Mana sanggup aku menatap matamu.

Hening sejenak.

Mungkin kamu berharap bahwa kupingmu salah dengar. Atau aku hanya membual. Tapi aku terdiam. Menegaskan bahwa yang kukatakan barusan itu benar.

"Balikan sama Ray?" Tanyamu lagi.
Aku mengangguk pelan. Bersiap mendengar makianmu.

Air mataku meleleh. Kamu memelukku lagi. Mencium rambutku. Aku kembali menangis sejadinya.

Aku bersembunyi di balik dada bidangmu. Kurasakan helaan napasmu. Begitu berat. "Kamu sudah yakin?" Tanyamu lembut. Kepalaku lebih menunduk. Kamu menganggapnya sebagai jawaban iya.

Padahal entahlah. Tujuh bulan aku berpisah dengan Ray, juga Alia putri kami. Kembali ke Indonesia membawa Angga putra bungsuku yang berumur 3 tahun. Sudah dua kali Ray mengunjungiku kesini. Pertama bersama Alia, dan kini ia datang lagi, membujukku untuk kembali.

Kami memang belum bercerai. Percekcokan kerap terjadi. Kami sama-sama keras kepala. Aku ingin berkarier. Meneruskan magister, Ray melarang. Dia ingin aku menjadi ibu rumah tangga saja. Hingga satu hari kami bertengkar hebat. Aku ingin kembali ke Indonesia. Setelah adu mulut cukup lama, akhirnya kami sepakat aku boleh pergi membawa Angga sedangkan Alia tetap tinggal bersama Ray.

Sungguh itu bukan hal yang mudah. Berpisah dengan putriku nyaris membuatku gila. Kami berpisah bukan hanya ratusan kilometer yang bisa ditempuh mobil, tapi 36 jam perjalanan pesawat.

Dan kamu, Adrian sahabatku seperti biasa selalu di sampingku. Melewati hari-hari terberat dalam hidupku. Sama ketika awal aku menginjak kaki di University Of Washington. Kamu menemaniku berkeliling kampus. Kamu menemaniku mengerjakan presentasi. Kamu selalu menemani hari-hariku.

Kali ini berbeda. Kamu melepas pelukan. Membalikan badanmu. Mundur satu langkah dariku. Jarak terjauh yang pernah kurasakan.
"Jangan menatapku seperti itu." Katamu. Ketika aku memelas meminta pengertianmu.

Aku menunduk mengerti. Aku seperti serpihan debu yang terayun di udara. Tak mampu menahan tiupan angin. Melayang tanpa daya.

"Apa kamu juga mau balik ke Seattle?" Lawanku. Mencari celah apakah kita masih dapat bersama.

Dahimu mengernyit. Sungguh aku tak pernah melihatmu seperti itu.

"Gak semua selalu bisa kamu dapatkan. Ada saatnya kamu harus memilih. Aku atau Ray."

Kamu membalikan badan lagi. Menatap lurus pohon-pohon cemara. Sungguh, pemandangan yang sangat tidak indah. Angin menelusup ke tulang rusuk. Aku beku.

Kamis, 08 Maret 2012

Fajar Senja: Terpasung Rindu

Senja, debur ombak seperti mengerti apa yang kurasakan, keras kerinduan membentur hatiku ketika lagu-lagu sendu mulai dimainkan.

Fajar, kamu tak tahu bagaimana rasanya cemburu, melihat kamu tersapa masa lalu. Jangan kira aku tak tahu. Cukupkan syair rindumu. Temui aku!

Hujan menemani senja, mengalunkan simfoni kepedihan. Tentang masa lalu yang menari di antara hati yang dilanda rindu

Senja disini sendiri menanti fajar kembali dengan janji yang acapkali teringkari.


Senja, malam masih penuh dengan gelap mimpi-mimpi, ditidurkan dengan nyanyian hujan; saat kuterbangun, aku akan segera pulang

Fajar, terlantun nada syahdu ketika lentera semakin meredup, menuntunmu kelak terbangun utk kembali ke jantung yg kau buat berdegup

Senja, bangunkan aku pagi ini dan akan kuucapkan namamu dalam doaku, 'kan kubawa 'kita' dalam menempuh hari esok

Fajar, kesedihanku terbawa jauh kabut dini hari. Kamu, menghangatkanku dalam cahaya fajar. Menyelinap dari balik tirai, menghujaniku dengan ciuman.

Jangan biarkan seorang kekasih terpasung dalam rindu. Segeralah bertemu.

Minggu, 04 Maret 2012

Cinta Berwarna Ungu

Kamu meracik untaian manis dalam pesan pribadi
Tingkah tak biasa dari kamu yang kukenal
Menarikku lamat-lamat dalam pusaran candu rindu
Mudah ditebak, dengan rasa yang dahulu sempat singgah, aku terjebak dalam kotak asa

Kamu beri balon gas lalu terbangkan aku untuk menari bersama awan
Tergelak dalam coretan yang kamu kirim
Tersipu dalam tulisan yang kamu sisip

Belakangan baru kusadari, tulisanmu bertinta ungu
Pun dengan cintamu

Berwarna ungu
Send to all
Acapkali hoax atau copy paste
Tapi mengapa masih juga kureply
(?)
(!)

Kamis, 01 Maret 2012

Fajar Senja Jelang Malam

Angin bertiup lembut, langit berwarna jingga. Sepasang kekasih ada dalam kalut, terpasung rindu yang mendera

Kasih, sebentar lagi aku akan melihat senja, tertegun melihatmu menuju malam yang penuh dengan mimpi.

Fajar, Mimpi terus disulam, biarkan bulan dan bintang bercinta. Rindu merengkuh malam, mengiris hati-hati yang dilanda cinta.

Senja, itukah yang kita rasakan? Kerinduan. Rasa yang menelusup di siang dan malamku. Dimanjakan mimpi dalam hela nafas ini

Fajar, iya itulah rindu mendalam. Yang kubisikan dalam hembusan angin malam dan rintik hujan yang menangis dalam diam.

Senja, redakan rinduku ini tetapi jagalah nyalanya selalu . Pastikan esok nanti ada kita diantara kau dan aku.

Fajar, rindu berpijar remang-remang, kasih terlelap dalam peraduan. Kelak dahi ini terkecup ketika fajar baru bersinar.

Fajar dan Senja menutup mata, berpegangan meraih bintang di angkasa, menari dalam suka cita, terharap hingga nanti tutup usia.

Senin, 27 Februari 2012

the bridesmaid

Ini ketiga kalinya gue menjadi bridesmaid untuk tiga sahabat gue.

Gue sih percaya dengan yang namanya seleksi alam. Pun dalam persahabatan, hukum tersebut sangat berlaku. Pertemanan yang diukir sejak bertahun-tahun yang lalu, akhirnya akan menyisakan beberapa saja yang tetap bertahan hingga saat ini.

Kami berempat adalah sahabat sejak SMA. Bahkan dua dari kami adalah sahabat sejak kelas 1 SMP. Gue dan Putri.

Yang namanya persahabatan ya kayak pacaran, ada aja naik turun hubungannya. Gue pernah sangat dekat, setiap hari ketemu, setiap hari nongkrong dan pernah juga begitu jauh dengan mereka. Terlebih setelah lulus kuliah, dua dari kami mengejar karir di luar kota.

Lalu kami bertemu lagi, di satu sore yang hangat. Berita bahwa Yuni terkena typhus dan ada di Bandung membawa gue dan Putri untuk segera ke rumahnya. Jangan pikir bahwa dia akan berada di tempat tidur dengan lemah tak berdaya, begitu aku sampai di kamarnya ternyata dia sedang main laptop dengan dandanan rapi dan wangi.

"Lo katanya sakit?"
"Iya, gw typhus. Gejala gitu."

Siapa yang percaya dia typhus dengan keadaan seperti itu. (ˇ_ˇ!!)
Gak berapa lama putri datang. Dia ga kalah terkejut. Orang sakit kok tetep cantik. Hihihihiii.

Kami bertukar cerita. Tak lupa salah seorang yang masih terdampar di Surabaya sana, Amal ikut bercerita lewat bbm. Amal tentu ingin gabung setelah gue kirim foto kami bertiga. Dan beberapa hari kemudian dia memang datang.

Gue dan Putri melarang Yuni balik ke Jakarta. Apalagi setelah dapat kabar kalau Amal juga resign dari kantornya. Kami ingin berkumpul lagi berempat. Seperti dulu. Sepuluh tahun yang lalu.

Dan kamipun bersama lagi. Berempat lagi. Beberapa kali nongkrong bareng, ngopi-ngopi cantik, cerita segala macam hal. Berbuat konyol, tertawa sampai perut kram.

Sampai suatu hari ketika Yuni ada di Bali, dia nelpon gue.
"Fan gua mo merid.
"Kapan?"
"Kalo gak kamis, jumat."
Addaa orang mo merid "kalo ga kamis jumat"
Hari itu adalah hari Senin dan dia masih berada di Bali. (ˇ_ˇ!!)

"Fan bantuin gw yah." Kurang lebih itu isi smsnya.

Pernikahan dilaksanakan hari Kamis. Gue bolos kerja dong. Putri saat itu gak bisa bolos, Amal tepat datang setelah akad nikah. Sebuah pernikahan sederhana yang menurut gue emang bener-bener sederhana.

Jadi gak aneh ketika Kamis subuh ada bbm, "fan pinjem kerudung dong, warna krem atau apa gitu. Gw disuruh pake kerudung". Itu beberapa saat sebelum akad. Gosh.

Gak berapa lama, Putri ngabarin gue kalo dia akan dilamar. I'm so happy. Gue dan dia pernah ngelewatin cerita cinta yang berliku, tahu dia akan segera masuk ke cerita cinta yang seharusnya tentu aja bikin air mata bahagia gue netes.

Menjelang pernikahannya, gue ga kalah sibuk sama yang punya hajat. Cari kebaya, jait, cari bed cover dll. Seksi sibuk part 2.

Pas acara resepsi gue sibuk kesana kemari nyambut tamu yang kebanyakan temen gue juga, minta orang katering beresin aqua, nambahin piring bersih..dengan menggunakan kebaya dan heels ajjaaa.

Beberapa bulan setelah hajatan Putri, berita bahagia datang dari Amal. "Fan, urang rek lamaran."

Gue datang Sabtu pagi dengan membawa 4 dus kue basah. ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ dan pulang dengan membawa berkotak-kotak dan dus makanan. ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ :))

Jarak lamaran ke pernikahan yang hanya dua minggu tentu aja bikin gue jadi seksi sibuk part 3. Cari kebaya, samping..buat kami bertiga.

Sampe-sampe mereka nyuruh gue bikin WO ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ :)) ini kali ketiga gue jadi bridesmaid. I'm so happy for them. Jadi bagian dari cerita cinta mereka.

BTW jasa ini gak gratis ya. Next pernikahan gue kalian yang harus sibuk. Gue cuma mau ongkang-ongkang kaki, ngikir kuku dan kipas-kipas cantik. Hhhahahahaaaahaa :))))

Ơ̴̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴̴͡ love you sisters...!

Kamis, 23 Februari 2012

Fajar Senja dengan Bismillah

Fajar, merindumu serupa candu yang terhirup dalam peparuku, ada dalam setiap napasku.

Senja, biarkan aku mengisi setiap ruang dalam hidupmu, biarkan aku menjadi alasan setiap kali jantungmu terhentak.

Fajar, kamu menjadi alasan senyumku terkembang, pipiku merona dan jantungku berdegup kencang. Tetaplah disini jangan merenggutnya lagi

Senja, bagaimana mungkin aku akan pergi jika hatiku di genggamanmu. Sambut hatiku dengan kasihmu dan jangan lagi meragu

Fajar, kamu tau betapa baiknya Dia? Hampir setiap malam aku selipkan namamu dalam perbincangan Kami, kini kamu benar-benar ada di sisiku

Senja, aku tau semuanya menjadi sempurna karena Dia. Sekian lama setelah kita saling menunggu dan setiap deru gelombang ini kau sambut

Fajar, penyangga hatiku, tegap berjalan di sampingku hingga saatnya aku di belakangmu, diimami olehmu.

Semoga kali ini Tuhan merestui kita