Minggu, 11 Februari 2018

Kerja Kerja Kerja

Sedikit petuah hidup:

Kerja mah biasa-biasa aja. Gak usah terlalu gimana banget. Ingat, segimana-gimananya kamu belain korporasi, toh kalo kamu mati ya tinggal ganti aja. Gak usahlah mati dulu, udah gak cocok aja kamu bisa ditendang begitu saja kok.

Pekerjaan gak usah diambil secara personal. Jangan baper ama kerjaan. Jangan mikirin kerjaan di luar jam kerja.

Cari duit ya cari duit aja, atas nama ibadah lebih bagus. Kesehatan dan kebahagiaan harus diutamakan.

Penjilat dan manusia serakah ada di mana-mana. Usahakan hindari berurusan sama makhluk seperti itu. Demi kewarasan.

Ada orang yang bisa dapat award Jerk Of The Day tiap hari. Serius.

Posisi dan Jabatan hanya titipan. Yakinilah.

Senin, 16 Januari 2017

Drama Perpanjang Paspor Online

Hello... Long time no see ya!

Karena banyak request (ceilee) soal perpanjang paspor yang baru kujalani hari ini, maka kali ini akan kuberikan cara juga tips dalam membuat atau perpanjang paspor yang dikhususkan via (katanya) online.

Denger kata online, pastinya kita berpikiran bahwa caranya akan lebih sederhana dong ya. Bak membeli baju online gitu, klak-klik mainin jempol, pilih, order, transfer dan TRING barang sudah sampai di rumah.

No. Jangan terlalu khusnuzon wahai kisanak!

Tanggal 4 Januari, daku mencoba googling cara perpanjang paspor online. Tapi ternyata sistemnya bapuk, sesuai pengakuan mereka bahwa sudah dua minggu ini error (atau emang wifi gue aje kalee). Alhasil gagal tuh ye. Besoknya kucoba lagi, walaupun lemot bin loading akhirnya bisa tuh. Sampai ada konfirmasi nyuruh bayar via email. Hal yang paling bikin KZL adalah tidak adanya Hotline yang bisa dihubungi. Semacam call center gitu loh. Kan enak ya, kalau ada apa-apa, bingung tinggal telepon. Atau gue aja yang gak tau?

Bank yang ditunjuk setahuku hanyalah BNI. Berhubung akun BNIku sudah die maka kuputuskan untuk mendatangi secara langsung bank-nya. Mungkin kalo punya m-Banking BNI bisa langsung ya. Mungkin loh. Hari Jumat, 6 Januari aku melakukan pembayaran dengan menunjukan surat permohonan pembayaran yg bisa didownload di email konfimasi. Berhubung pake hp jadi gak sempet ngeprint, jadi hanya dikasih unjuk aja PDFnya.

Bayar Rp. 355.000,- tanpa ada biaya lain-lain lagi, aku dapat tanda terima yang sudah ada nomor NTPNnya.

Setelah itu kita harus melakukan konfirmasi pembayaran di link yang disediakan di email kita. Ikuti semua step sampai nanti masukin tanggal kedatangan yang bisa kita pilih kayak tanggal tiket pesawat.

Kupilih tanggal terdekat yang tersedia yaitu 16 Januari. Kupikir seperti halnya tiket pesawat, maka yg datang pada tanggal tersebut adalah pendaftar yang memilih hari itu. Jadi gak perlu lah antre yang kata orang-orang juga aduan di twitter harus dari subuh bahkan dini hari. PRET.


Entah karena kelalaianku atau sistem yang error, pada tanggal yg telah ditentukan, aku datang ke kantor imigrasi yang sudah kupilih tersebut, tanpa membawa surat konfirmasi kedatangan. Yang harusnya kuprint pada saat memilih tanggal kedatangan tadi. Bentuknya mirip dengan surat permohonan pembayaran, lengkap dengan barcode.

Mampus gue! Itu yang tercetus ketika sudah satu setengah jam mengantre di parkiran kantor imigrasi untuk mendapat nomor antrean. Iya, ngantre untuk dapat nomor antrean. Rancu kan? Auk deh. Jadi, aku dan ratusan orang datang bahkan ada yang dari jam setengah lima. Abis subuhan. Hanya untuk mendapat nomor antrean. Loket antrean baru buka jam 8 pagi. Dan tutup jam 10 sajah. Yhuks.

Nah, setelah ngantre di luar, pas udah deket ke pintu masuk, nanya dong ama security soal surat konfirmasi kedatangan yg belum kupunya. Pak security yang belakangan curhat karena beliau harus hari itu harus bekerja 24 jam dan besoknya harus masuk pagi lagi karena temannya tidak masuk itu, menyuruhku untuk langsung masuk dan menuju meja informasi. Wah lumayan neh angin segar, bisa langsung masuk, jerit hati kecilku.

Eh ternyata bagian informasi juga ngantre. Haha. Hvth. Selang beberapa waktu, bagianku ke depan, kuceritakan masalahku, si bapak mengambil tanda terima yang diberikan pihak bank. Semenit, lima menit, sepuluh menit. Belum nongol juga. Laper. Kutinggal ke kantin saja untuk membeli aqua dan sepotong gehu. Enam ribu saja. Kukembali dan ternyata tanda terima sudah dicek, dikembalikan dan sudah diberi nomor pendaftaran. Eits, nomor pendaftaran bukan berarti nomor antrean. Jadiii.. Aku harus antre ulang. Iya, yang di luar gedung itu. Yang di parkiran itu. BALIKIN SATU SETENGAH JAM GUE YANG TERBUANG PERCUMA 😭 Krai sekebon.

Dengan wajah lunglai, akupun ngantre lagi. Kali ini mulai panas karena waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi. Moyan, sis! Saling tuker cerita sama sesama pemohon. Ada yang sudah 3x bolak-balik karena pertama dia bawanya bukan e-KTP. Kedua karena sudah lama antre pas di depan loket udah jam 10 teng. Jadi disuruh pulang lagi. Kebayang gak sih berapa waktu yang terbuang buat ngurus you named it online?

Eh ini daku masih cerita versi online ya. Nanti aku kasih perbandingan antara online dan walk in. Juga sedikit tentang e-paspor.

Ada juga cerita tentang pemohon yang salah info, harusnya perpanjang malah pembuatan baru. Solusi dari mbak di meja informasi adalah... Bikin permohonan lagi. Secara walk in. Dan uang yang sudah dibayarkan tentu saja hangus.
Mbak: "ibu pake walk in aja, kan formnya diisiin petugas jadi ga akan salah lagi."
Ibu: "trus, uangnya gimana?"
Mbak: "ya hangus bu kalo udah masuk mah."
Ibu: "masa hangus? Kan bisa dipindahkan mbak? Oke saya mulai lagi permohonannya tapi masa uangnya gak balik?"
Mbak: "iya, sudah hangus bu." muka lempeng.

Aku ikutan kzl jadinya.

Balik ke ceritaku, jam sepuluh kurang dua menit, alhamdulillah bisa masuk loket. Kita cuma ngasih unjuk berkas asli yg dipersyaratkan trus dikasih nomor antrean. Gitu doang. Bingungkan dari tadi ngantre lamaaaaaaa kirain gimana gitu ternyata cuma...ya gitu deh. Dapatlah nomor antrean 4-094. Angka 4 kayaknya untuk yg online. Mungkin. Entahlah. Yang pasti pas liat nomor yg sedang jalan baru sampe 4-028 badan langsung lemas. Mungkin karena emang laper sih. Bergegaslah daku ke Warkop samping kantor. Pesan indomie dan kopi ABC susu. Demi kedamaian dunia.

Setelah ngisi perut, daku balik lagi ke dalam. Sudah agak lenggang karena pendaftaran sudah ditutup tadi jam 10 kan ya. Sementara yang dari pagi mah udah pada kelar. Pemohon yang bareng dari jam setengah enam kurang lebih kelar jam setengah sepuluhan. Jadi kalo lancar, you orang bisa datang setengah enam, langsung antre dan bisa kelar jam setengah sepuluhan. Ok Sip.

Jam 12 siang tentu saja break istirahat makan siang. Nomor sudah menunjukan angka 4-082. Ya lumayanlah, ke Mushola dulu dan akhirnya nomorku dipanggil pada jam dua siang. Wawancara sebentar, isi berkas seperti prosedur walk in karena berkasku tidak diprint pada saat input online. Langsung foto dan dikasih surat untuk ngambil paspornya Kamis nanti tanggal 19 Januari mulai jam 1 siang. Sepertinya sih kalo ambil paspornya ga akan ngantre kayak pas permohonan. Dan bisa diambilin oleh keluarga yang tertera di Kartu Keluarga.

Jadi, dokumen yang harus disiapkan online maupun walk in:
-eKTP (kalau masih KTP biasa, ke kecamatan dulu minta surat rekam atau apa gitu deh)
-KK
-Akta kelahiran atau Ijazah SMA (kalau kuliah gak bisa karena gak ada nama ortu)
-Surat konfirmasi kedatangan (untuk online)
-Tanda bukti pembayaran (untuk online)
-Paspor lama

Semuanya harus plus fotokopiannya di kertas A4.

Barang tambahan yang harus dibawa:
-Bolpen
-Bantal leher (untuk nahan ngantuk pas ngantre)
-Modem yang kuotanya masih banyak
-Powerbank
-Buku atau apa aja deh pokoknya untuk mengisi waktu luang. Monopoly kek. Ular tangga kek. UNO kek.
Soalnya kan namanya ngantre ya, apalagi kalo yang suka males ngobrol sama orang sekitar. Eh tapi ada tv juga sih, nayangin just for laugh yang lumayan menghibur.


Nah sempat kutanya apa bedanya walk in dan online. Mbak petugas hanya menjawab: "Sama aja bu, bedanya pas bayar doang. Kalo online bayar dulu baru masukin berkas. Kalo walk in ke sini dulu baru bayar. Hahaha."
😌😌😌

Trus kalo e-paspor itu bedanya apa ama yang biasa?
"bisa free visa jepang aja sih. Itu doang."

Oh. Harus ke bandara Soekarno Hatta ya?
"gak, bisa di imigrasi Jakarta, Batam sama Surabaya."

Oh. Ok.

Summary Step by step versi daku:
1. Masuk ke website imigrasi

2. Pilih menu Layanan Publik-Layanan Online-Layanan Paspor Online. Lalu pilih tabel Pra Pemohon Personal (pilihannya Pembuatan Paspor Baru, Penggantian Habis Berlaku atau Perubahan Data).
3. Isi nomor paspor lama, jenis paspor ada yang 24 dan 48 halaman. Punyaku 48 halaman.
4. Isi Form Pembayaran. Nanti akan ada konfirmasi suruh bayar di email.
5. Setelah bayar, klik link "lanjut" yang ada di email konfirmasi pembayaran. Aku sendiri bayar hari Jumat siang dan baru ada email konfirmasi Senin malam tanggal 9 Januari. H2C banget lah karena berasa gak sukses bayarnya. Takut hangus uangnya.
point nomor 2 bikin parno

6. Isi halaman kedatangan.
7. Print tanda terima permohonan paspor yang dikirim ke email. (ini aku gak dapet, makanya jadi bolak-balik dan antre ulang). Siapin semua berkas yang dibutuhkan.
8. Datang di tanggal yang ditentukan. Pakai pakaian rapi, berkerah, jangan pake sendal jepit. Jangan warna putih. Tapi kalo udah mepet banget, ada jas yang dipinjamkan pas mau foto. Bawa semua berkas yang diperlukan.
9. Antre dari setengah enam pagi. Loket buka jam 8-10 tapi kalo Selasa dan Jumat dari jam 6 pagi. Ada layanan early bird gitu lah. Panjang antrean on line kurang lebih setengah dari antrean walk in.
10. Ambil nomor antrean. Berkas saat pengambilan nomor ini adalah berkas asli. Jadi kalo ada yg belum difotokopi bisa dilakukan pas antre wawancara setelah dapat nomor. Karena kantin dan warung fotokopian terdekat bukanya jam 7-8an gitu deh.
11. Wawancara dan foto. Itungan kasarku tadi, pernomor kurang lebih menghabiskan 5-10 menit wawancara plus foto. Jadi hitung aja kurang lebih waktu yg dibutuhkan pas udah dapat nomor.
12. Paspor bisa diambil 3 hari berikutnya. Mulai jam 13:00.


Sekian dulu curhatan hari ini. Nanti daku edit lagi untuk nambahin foto dan link websitenya ya. Maklum, ini posting pake HP dan daku mau pijit dulu karena tadi puegel sekali abis berdiri berjam-jam. 😁😁😁😁😁

Sudah di-update yaa. Semoga berguna!

Kamis, 18 Agustus 2016

Sapaanmu

Sempat kuingin marah lagi padamu.

Air mata kutahan demi ayah ibuku.

Aku tak suka dalam posisi seperti ini, kamu tahu itu.

.
.
.

Laun kusadari, kamu kangen aku.
Kamu sedang menyapaku.
Aku kurang perhatian padamu.

Maaf ya, cintaku.

Selasa, 26 Januari 2016

Surat Tiga Tahun Lalu

Maaf aku baru menemukan suratmu,
Surat tiga tahun yang lalu

Tak kusangka, reaksiku akan setenang ini
tak ada gelombang besar
hanya sedikit riak
sedikit sekali

Tak ada yang berubah setelah kubaca surat ini
kamu sudah di sana
dan aku masih melangkah seperti yang kau lihat dulu

Ada sedikit lega,
ternyata dulu bukan hanya aku
Syukurlah


Kita sudah cukup bersenang-senang
kini sudah saatnya berbahagia

Jumat, 06 Maret 2015

Bucket List

Beranjak dewasa saya mulai punya bucket list. Maklum sebagai putri satu-satunya, Ayah dan Mamah agak over protective dengan tidak mengizinkan saya main keluar rumah. Hehe. Alhamdulillaah, beberapa sudah tercapai.
[-] Naik Mercusuar di Belitong     [√]
[-] Nginjek Pantai Kuta – Bali     [√]
[-] Snorkeling di Pulau Seribu      [√]
[-] Berjemur di Gili Trawangan       [√]
[-] Caving Goa Pindul – Gunung Kidul     [√]
[-] Waisak di Borobudur    [√]
[-] Megang Ka’bah  [√]         
[-] Menikmati Sunrise di Bromo    [√]
[-] Foto di Museum Angkut/Movie Star – Batu    [√]
Berarti PRnya masih banyak yes, di antaranya:
Ngadem di Ubud, ke Dataran Tinggi Dieng, Derawan, Aceh, Wakatobi, Raja Ampat, Ora Beach, Kuliner di Bukittinggi, Medan, Jalan-jalan ke Thailand, Jepang, Korea, London, Milan, Paris, New York……..
Ngayal aja dulu, siapa tahu dikabul Tuhan.
:)




Senin, 23 Februari 2015

Tak Kunjung Move On #Trip

Hore Liburan!

Berkedok undangan di Surabaya, daku dan 16 orang teman (IYA ENAM BELAS) termasuk seorang anak kecil lucu menggemaskan berumur satu setengah tahun bisa jalan-jalan selama 5 hari, bahkan ada yang curi start jadi 6 hari, di Surabaya, Malang, Batu dan Bromo. Iya Bromo, gunung yang dari kapan tau pengin aku datengin!

Perjalanan dimulai di Rabu pagi tangal 18 Februari 2015 dari Bandara Husen Sastranegara menggunakan Lion Air. Dan sepertinya Lion Air terakhir sebelum delay parah-parahan itu. Kami cuma delay sejam aja, yang harusnya berangkat jam 6 malah jadi jam 7, yaudahlahya, ngerti banget kita mah orangnya..

Meeting Point sama teman-teman lain di Bandara Juanda sekitar jam 9 pagi. Empat teman yang curi start duluan dengan datang di hari Selasa menjemput dengan Long Elf. Tak lupa mengabari selalu manusia yang kami jadikan alibi atas usahanya menikah di Surabaya sehinga kami ada alasan untuk cuti ke kantor. Envy! Itu respon yang selalu kami dapat setiap posting foto ke grup. Ya gimana gak bikin envy cobak, bisa jalan ama temen-temen kuliah which is itu udah lebih dari sepuluh tahun, banyakan, cukup lama pulak! Ya biasanya palingan weekend doang kan, nah ini dari Rabu ampe Minggu. Hihihihihi!
macet? selfie lah!

Pemberhentian pertama adalah RM Bu Kris di Pandaan pas makan siang, lalu kita melanjutkan ke Malang untuk belanja kebutuhan bersama di Vila seperti camilan, mie instant, air mineral dll. Setelah itu lanjut ke Bakso Bakar yang ada di Pahlawan Trip-Malang. Oiya, seperti biasa untuk ngetrip kami menyewa mobil (yang kali ini berupa long elf) beserta supir dan bbm. Gak pake paket-paketan wisata gitu. Itinerary diserahkan sepenuhnya kepada salah satu anggota gank yang bekerja di Kementerian Pariwisata. Cucok khan?

Setelah mampir sana-sini, kena hujan dan banjir akhirnya kami sampai di Villa Bagus – Batu sekitar pukul 5 sore. Villanya bagus banget, sesuai dengan namanya. Terletak tak jauh dari tempat wisata Paralayang, jadi kalau sedang nongkrong di balkon, bisa lihat orang terbang-terbang gitu.


Lepas Maghrib kami bergerak ke Batu Night Spectacular. Sebuah taman bermain yang tidak jauh dari Vila. Cukup banyak wahana yang seru dan spot menarik untuk foto.



Esok harinya kami berwisata ke Batu Secret Zoo, yang gak jauh juga dari Villa. Awalnya agak underestimate gitu untuk jalan ke Kebun Binatang. Tapi ini bukan sekadar Kebun Binatang biasa. Dari bentukan luarnya aja udah ajaib. Dalemnya? Lebih ajaib. Butuh seharian penuh untuk bisa menyelesaikan perjalanan di Batu Secret Zoo. Karena? Karena GUEDE BANGET dan BANYAK WAHANANYA. Kalau dulu mikir Zoo hanya untuk anak-anak study tour, setelah ke sini pikiranku mendapat pencerahan bahwasannya Zoo bisa didatangi oleh abege macam kami.




ngasih makan shanti

Sekitar Maghrib kami memutuskan untuk kembali ke Villa dan mengubah sedikit jadwal. Hujan turun sangat deras, kaki bengkak karena kebanyakan jalan maka rencana ke Museum Angkut ditunda sementara waktu. Oiya untuk menghindari kecapekan berlebih pada otot betis, daku sarankan untuk menyewa e-bike. Semacam scooter/sepeda listrik yang bisa dipakai berkeliling. Harganya 100ribu rupiah.

Bukan tanpa pertimbangkan kami tunda jalan-jalan ke Museum Angkut. Malam ini adalah perjalanan ke Bromo. Jadi kami harus siapkan fisik dong ya.

Tim Lisser Adventure menjemput pukul 12 malam. Ciaobella and the gank bergerak menggunakan dua Trooper ke arah Tumpang. Melewati hutan di tengah pekatnya malam..gak, gak aku gak takut. Gak. Gak salah lagi. Untungnya Bang Ipul yang ada di kemudi bisa dicengin.

Langit tanpa polusi cahaya adalah salah satu atraksi pertama yang kami dapatkan. Daku mendongak ke luar jendela, bintang serasa bisa dijangkau. Apa yang dilihat mata gak bisa dibandingkan dengan yang ditangkap lensa kamera. Kukeluarkan tangan. Menyapa angin malam. Ah, syahdu.

sunrise

spot rahasia


kemudian daku cedera





Karena keterbatasan waktu, pukul 9 pagi kami harus segera kembali pulang ke Villa. Paket tour Bromo ini termasuk mengantar kembali ke tempat awal loh. Jadi walaupun ke Batu, tetap diantar.

Gak drama ya gak seru. Jam setengah dua belas kami ditelepon pengurus Villa supaya segera check out. Lha ya kami masih di Malang piye…. Menurut teman yang stay di Villa barang-barang harus sudah disiapkan di luar kamar. *PANIK*

Sesampainya di Villa sekitar pukul setengah satu, pengurus berulang kali minta maaf karena adanya tamu yang akan mengisi jadi mereka harus segera membereskannya. Buru-buru mandi dan packing terus urus ini-itu. Jam setengah dua, setelah ngumpulin nyawa, dandan dan briefing kami bergerak ke Museum Angkut. Tempat yang daku kecengin selain Bromo.


Bukan Cuma ada alat transport aja, di sini ada tema-temanya juga. Agak sedikit mirip Madam Tussauds gitu. Cocok untuk para abege dengan tingkat kenarsisan di atas batas wajar.










Menjelang Maghrib kami bergerak ke Surabaya. Tapi baru nyampe Gempol kok ya gak gerak-gerak. Matot. Macet total. Stuck kayak hubungan kita gitu, Mz.

Nyampe hotel di Surabaya jam sepuluh malem. Capek dan laper. Yang menang? Ya laperlah! Mas driver mengantar ke salah satu pusat jajanan di…entahlah saking lelahnya aku lupa.

Drama Villa di Batu kayaknya masih kurang, Sabtu siang ditambahkanlah drama pindah kamar hotel di Surabaya. Seru tiada duanya! Bingung antara mau pindahan dulu, mandi, atau makan. Kali ini yang menang adalah mandi. Karena kita habis jalan cari oleh-oleh dan you know lah Surabaya panasnya kayak lihat mantan nikah duluan yes.

Habis pindahan kamar, makan dan dandan kami segera ke Masjid Al Akbar untuk menghadiri akad nikah. Oiya, kalau ada acara di sana jangan lupa untuk pakai baju tertutup. Ada sih kerudung yang bakal dipinjamkan, tapi daku sarankan untuk membawa sendiri saja.

Acara berlangsung khidmat, kami harus kembali ke hotel karena resepsi baru dimulai malam hari dan belum pakai kebaya yang disiapkan. Tiba-tiba BYUR hujan gede banget-banget. Udah kayak tangisan hati seseorang yang ditinggal kawin lah malih! Lepas heels dan lari menuju mobil sambil hujan-hujanan. Bodoamaaat. LoL.
puncak alibi


Minggu siang kami kembali ke kota masing-masing. Ke hati masing-masing.
pulang ah, masa liburan mulu!

What a great trip gaes! Love ya!! Trip yang bikin Tak Kunjung Move On






Jumat, 31 Oktober 2014

28 Tahun yang Menyenangkan

Menimbang dan menilik kehidupan selama 28 tahun terakhir ini, rasanya gak ada kata yang lebih pas selain Alhamdulillaah.

Keluarga yang bahagia, teman-teman yang menyenangkan, pekerjaan yang baik..
Kesehatan dan rezeki yang mencukupi…

Memang masih banyak pe-er yang ingin dilengkapi selama jadi manusia di bumi ini. insyaaAllah semua akan berjalan dengan baik di tahun-tahun berikutnya.

Menurut cerita Mamah dan Ayah, daku gak keluar-keluar setelah 3 hari Mamah di RSHS saat itu dan akhirnya terpaksa divakum pada jam 1 pagi tanggal 1 November.

Usia boleh bertambah tapi mental kayaknya masih terjebak di angka 19.

Selamat datang usia 29, semoga daku masih bisa menyapa lagi di usia-usia selanjutnya.


Ciaobella! 

Jumat, 22 Agustus 2014

terlatih patah hati

tenang saja sayang, kali ini tidak akan terlalu sakit
bukankah ini untuk kesekian kalinya dia mematahkan hatimu?

oh, kali ini dia memporak-porandakan hatimu ya?

aduh bagaimana dong?

tetap bisa bangkit lagi kan kali ini?

                              ..........

ayolah, aku bisa melihat sedikit senyum yang bisa kamu tunjukkan kepada mereka
aku tak suka melihatmu seperti mayat hidup seperti itu

kamu tunjukkan kalau kamu perempuan hebat
perempuan kuat

oh, jadi kali ini kamu ingin dia menyadari kalau kamu sakit dengan kondisi seperti ini
ya salah kamu juga sih kenapa selama ini kamu bersikap seolah tidak apa-apa

aduh, maaf
bukannya aku jadi menyalahkan kamu

                              ..........

mendingan kamu menulis lagi
bukankah kamu produktif ketika patah hati?
aku suka sekali tulisan-tulisan patah hatimu

                            ..........

hei, bukankah kamu sudah terlatih patah hati?

Rabu, 06 Agustus 2014

#tbt Trip Gua Hiro

Sedari malam, pembimbing utama mengingatkan saya untuk istirahat lebih awal. “Kita berangkat jam empat pagi!”.

Rencananya di hari terakhir ini kami akan hiking ke Gua Hiro. Jangan bayangkan Gua Hiro seperti gua yang kita tahu selama ini, berbentuk terowongan panjang dan gelap gulita. Gua hiro hanyalah berbentuk tumpukan batu-batu besar yang berada di puncak Jabal Nur. Makanya tadi saya bilang kalo kami ini akan hiking di Gua Hiro. Dua ribu lima ratus feet. Silakan konversikan ke satuan yang lebih kamu pahami. Yang pasti itu adalah gunung tertinggi yang saya daki.

hiking subuh-subuh masih gelap, belum tau kalo gunungnya setinggi ini

Shalat Shubuh dilaksanakan di kaki gunung. Masjid kecil yang kurang terawat dan tidak ada air. Untunglah pembimbing sudah mengingatkan kami untuk berwudhu di hotel sebelum berangkat.

Sesuai jadwal pakaian yang saya buat, -iya saya bikin jadwal pakaian selama 11 hari perjalanan di Tanah Suci hari itu jadwal saya memakai celana hareem dan kaos oblong. Cocok untuk beraktivitas di luar. Yang saya luput adalah alas kaki yang dipakai, saya memakai sandal jepit dan kaos kaki seperti kebiasaan selama umrah. Hasilnya? Saya terseok-seok di jalanan berbatu karena kaos kaki dan sandal jepit bukan padanan yang pas. Licin cyn. Akhirnnya saya lepas kaos kakinya dan mulai menapaki titian batu sampai ke puncak.

Tas punggung yang berisi makanan, dompet, gadget saya lempar ke teman serombongan. Bawa diri sendiri aja gak kuat, apalagi harus bawa beban tambahan. Pengalaman naik turun 5 lantai hotel ketika di Madinah lumayan menjadi latihan. Bukan, bukan karena hotel di Madinah tidak ada lift tapi lift selalu penuh dan saya gak tega hati kalo harus berebut dengan sepuh-sepuh. Setelah berkali-kali ngangis dan muntah saking capeknya, akhirnya saya sampai di puncak Jabal Nur.

sendal jepit yang bawa saya ke puncak Jabal Nur

Subhanallah. Bangga, haru dan entahlah campur aduk rasanya bisa sampai ke puncak. Fajar baru terbit, dan itu adalah salah satu momen terbaik yang pernah saya dapatkan.

KECE BERAT KAAN?

Setelah istirahat dan memakan bekal, pembimbing mengajak kami sedikit turun ke sisi lain gunung untuk masuk ke Gua Hiro. Tidak terlalu jauh namun cukup curam. Ada sebuah batu yang ‘menghalangi’ jalan masuk. Secara logika susah untuk kami melewatinya tapi… TARRAAA! Kami semua bisa melewatinya tanpa kendala berarti. Tapi kemudian saya berpikir dan membayangkan bagaimana jaman dahulu Nabi SAW harus mendaki dan melewati batu-batu seperti ini yang mungkin jaman dahulu medannya lebih berat. Plus dikejar kaum kafir pula. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad.
udah ngantre lama untuk foto di tempat Rasul menerima wahyu ehh blur aja gitu..

Jumat, 18 Juli 2014

Senja ~ Chapter 3

“Awas kalo ngintip!”
“Gimana mau ngintip, ini ikatannya kenceng begini juga.”
“Siapa tau lo bisa liat lewat celah-celah di bawah idung itu”
“Kalo ada celah, tadi aku ga akan kesandung!”
“Ihh bawel banget sih, udah nurut aja. Sekarang maju, maju lurus tapi agak serong kiri dikiit aja.”
“Nyuruh serong segala, katanya aku jadi cowok harus setia. Gimana sih kamu tuh gak konsisten jadi cewek.”
“Serong, miring maksudnya. Bukan serong selingkuh!” teriakku.
DUG. "Aw!"
Aku tergelak, dahinya mengenai mini bar.

“Kamu nyulik aku dari kantor sore-sore gini, disuruh pake tutup mata padahal udah jelas, kamu bawa aku ke apartmenku sendiri. Kamu tau gak, aku lagi nyiapin laporan buat besok pagi? Data dari bagian QA baru dateng jam 2 siang tadi. Kalo aku gak diculik-culik kaya gini, laporan itu bisa selesai jam 8 malem ini. Aku bisa tidur nyenyak sebelum besok ketemu Pak Menteri. Tau?”
“Kalo nanti malem kan lo 'sibuk'.. gak bisa gue ganggu.” kataku, memberi penekanan pada kata sibuk.
“Nanti malem kan aku mau nyelesein laporan., Nona.”
“Berisik ah, nah duduk situ nah iya. Diem di situ. Tangannya jangan gerak-gerak!”
Dia masih ingin berceloteh tapi geramanku menghentikannya.
“Sekarang buka ikatannya!”


“Happy birthday!” seruku.
Sebuah tart bertabur cha cha warna warni dengan lilin berjumlah tiga puluh satu.

“Lo pasti lupa kalo ini hari ulang tahun lo!” kataku dengan bangga.
Dia masih terkejut. Bingung. Ahh senangnya bisa membuat dia terbengong-bengong seperti ini. Kejutanku sukses.

“Ulang tahun aku kan besok..” jawabnya.

“Hah?” kini giliran aku yang terkejut. Kulihat layar blackberry. Tertera tanggal 23 Oktober. “Beneran kok tanggal dua tiga…”

Dia terpingkal-pingkal. “Baru dijailin gitu aja udah kaget…”

Aahhh…. Menyebalkan, aku terkena lagi tipuannya. Kucubit lengannya. Kupukul bahunya.

“Nyebelin banget sih, gue udah cape-cape bikin kue kaya gini malah dijailin..”

“Uuuh sayaangg…..” katanya tersenyum menggoda seraya menyalakan satu persatu lilin. “Aku make a wish dulu nih ya, sebelum tiup lilin..”

Wusss. Aku  membantunya meniup lilin. Semua lilin sudah padam. “Semoga permintaanku terkabul ya.”

Aku mengangguk. “Sekarang potong kuenya, liat dong kue apa ini…” kuserahkan pisau kue yang kupegang sedari tadi. Segera dia memotongnya.

Wah rainbow cake! Beneran ini kamu yang bikin?” tanyanya  penuh curiga.
“Iya dong, semalaman gue bikinnya tau, sampai gak tidur! Bagus kan?”
“Bagus sih, tapi gak tau deh, enak apa enggak.”
“Berani lo bilang gak enak awas aja!” seruku sambil mencomot cha cha berwarna merah.
“Heh, maen comot-comot aja. Itu yang merah punya aku!” tangannya menepis cha cha merahku. Sedetik kemudian kami hening. Saling berpandangan.

Cincin putih yang melingkar di jari manisku dan jari manisnya berdampingan. Seolah membuyarkan kebahagiaan kami.



Ponselnya berbunyi, tanda pesan singkat masuk.

Aku segera melirik swiss army di lengan kiri. “Udah abis waktunya, gue balik dulu ya!”

Dia masih terdiam. Kudaratkan kecupan di pipinya. “Happy birthday ya, semoga pernikahan kamu nanti lancar.” Aku sambar kunci mobil dan segera berjalan keluar.

"Tunggu! Kalau kamu minta aku untuk batalin pernikahan ini, akan aku batalin sekarang juga."

***


Sayang, kamu pulang kerja jam berapa? Jadi kan ya nanti malem kita rayain ulang tahun kamu. Miss you!

Mana Sanggup

Mana sanggup aku di dekatmu
bisa meledak jantung ini kamu buat

Mana sanggup kutatap dalam matamu
bisa tenggelam aku di dalamnya

Mana sanggup kubernapas di sampingmu
tercekik tenggorokanku menghirup wangi tubuhmu


tapi pada hari nanti

pelukmu akan meredam debaran jantungku
tanganmu menggenggamku melewati waktu
dan ciummu menghangatkan hidupku

Selasa, 15 April 2014

Senja ~ Chapter 2

“Kak kenapa pikniknya sore sih? Kenapa gak pagi-pagi?”

“Namanya juga Senja. Ya sore-sore dong.”

“Jadi gimana awal mula punya ide tentang novel ini?” 

 *
Beralas tikar, di bawah pohon-pohon rindang di taman kota. Diskusi ringan buku Senja yang baru dilaunching berlangsung hangat. Diiringi petikan gitar seorang sahabat, Senja larut dalam dunianya.

Sesekali ia tertawa riang. Matanya bercahaya. Semua kesenduan saat pertama kubertemu dengannya sirna.

Ingin sesekali aku menjadi angin  yang membelai lembut rambutnya, menerpa halus kulitnya. Membisikan seluruh puisi cinta untuknya.



“Hey!”
Lamunanku buyar, gadis itu sedah berdiri di hadapanku.

“Eh Nona Manis udah selesai diskusinya?” Beberapa peserta tertawa menggoda ketika melewati kami. “Udah cantik, pinter lagi… makin cintaa deh.” Dia hanya meninju pelan lenganku. Lalu mendelik dan meninggalkanku.

“Apa, Lo?” jawabnya, santai.

“Tuh kan udah ditemenin malah ngeloyor gitu aja.” Aku merajuk.

“Genit bener sih lu jadi orang! Males gue”

Aku menarik lengannya. “Siapa yang genit sih? Aku kan cuma berkata jujur, Sayang”

Dia melepaskan tanganku. “Sayang-sayang, semua cewek aja lu panggil sayang. Gombalan lu gak ngefek buat gue. Basi!”

“Tapi aku serius tau sama kamu. Sumpah.” Dua jari kubentuk menyerupai huruf V.

Whatsoever.”


“Kamu kenapa sih, ga pernah percaya sama aku?”

“Percaya apa?”

“Percaya kalo aku sayang kamu.”

“Lah, lo tiap hari ngomong sayang-sayang begitu juga sama semua perempuan.”



“Kamu tuh ga pernah ngasih aku kesempatan sih.”

“Kesempatan? Dana umum, keless? Main monopoli sana!”

Tarikkan tanganku kini agak erat agar kali ini dia menghentikan langkahnya. Mendengarkanku baik-baik.

“Kayaknya kamu akan lebih ngasih dua- tiga kali kesempatan bagi pria brengsek manapun kecuali aku.” Dia bengong atau bingung, entah. “Iya, kamu akan menerima pria brengsek manapun yang akan main-main sama kamu, bahkan bisa ngasih kesempatan lagi untuk dia nyakitin kamu. Tapi kamu gak akan pernaah ngasih aku kesempatan untuk menunjukkan keseriusan aku. Iya kan?”

Senja tampak kaget. Dan bingung. “Udah selesai ngomongnya?” dia menghentikan taksi. “Makasih ya udah nemenin. Gue ada perlu dulu, daah.” Lalu meninggalkanku begitu saja.


***

Rabu, 02 April 2014

Senja ~ Chapter 1

Pada suatu senja di bulan Mei. Gadis itu terpaku di tepi pantai, mencium rakus amis laut dan menatap lurus ujung horison. Garis batas langit dan laut.

Jemari telanjang menelusup ke dalam pasir. Hangat. Kulit melegam terpanggang matahari. Sudah seharian dia belum juga beranjak.


Secarik surat ada dalam genggamannya.


Pada senja kutitipkan sebuah kehangatan
Penantian akan pulang
Sirnanya kesenduan
Cinta


Gadis itu lalu berdiri. Mendekap surat dalam-dalam. Tersenyum ke arah surya yang tenggelam. Berjalan menuju tepian pantai. Senyumnya mengembang. Terus melangkah. Riak-riak ombak tak menghalanginya. Berat-berat kakinya terus bergerak. Air laut sudah sampai sedadanya.



“Nona! Berhenti Nona!!”



**

Jumat, 14 Februari 2014

Digoyang Pantura

Rencana meggoyang Pantura tinggalah rencana, yang ada hati daku yang digoyang-goyang.


Selembar undangan pernikahan dari teman dekat menjadi alibi untuk jalan-jalan ke Pantura. Sebenarnya sih gak se-Pantura-Pantura banget. Cuma Sumedang-Majalengka-Cirebon-Kuningan. Ya namanya ada undangan ke luar kota, weekend pula, sayang banget dong kalo gak sekalian dipake ngider. Teu kaop kalo temenku bilang. Teu kaop aya celah jang ulin, pasti langsung indit. (--,) he he he.

Rencananya hari pertama ikut rombongan temen kantor. Rutenya Sumedang-Majalengka-Cirebon. Alhamdulillaah lancar. Berangkat jam 5 Teng. Iya, kita memberlakukan Tenggo. Jam 5 Teng langsung Go, untuk menghindari macet, telat dan hal-hal menyebalkan lainnya. Mampir dulu ke Majalengka, nengok yang sakit eh malah dibekelin makanan. Hehehe. Rezeki ya cyn.

Perjalanan dilanjutkan, langsung ke tempat kondangan. Alhamdulillaah nyampe sana pas laper, pas makanan lagi banyak-banyaknya. Segala makanan khas Cirebon disajikan. Mie koclok, empal gentong, tahu gejrot, segala rupa you named it pokoknya. Perut sudah kenyang, perjalanan akan dilanjutkan dengan wisata belanja.. Kita semua masuk ke bus, udah absen semua tapi kok gak jalan-jalan ya… Ternyata oh ternyata busnya amblas. Di parkiran. Yasalaaam… HAHAHAHAHAA!

Sekitar satu setengah jam sampai akhirnya mobil derek datang, kita semua udah selesai istirahat dan shalat Zuhur, jadi lebih enakan sih. Perjalanan dilanjutkan ke pasar Pagi. Biarpun udah siang bolong namanya tetap Pasar Pagi.

Gapit, sarang madu, emping dan lain-lain sudah masuk ke dus.

Mbak penjual: Mbak, ini sudah masuk semua ya. Mau ditulis atas nama siapa?
Daku: Atas Nama Cinta
Mbaknya: Okeyfain.
ATAS NAMA CINTA

Cirebon lagi panas-panasnya saat itu, kayak hati yang lagi gerah lihat gebetan ngobrol ama mantannya. Segelas es dawet menjadi penyejuk, SERRR enak adem, apalagi itu esnya dibayarin ama temenku.

Seolah kurang dramatis, lagi ngelamunin gebetan yang lagi sama mantannya itu tiba-tiba saja hujan turun. BYURR. Kami langsung berlarian menuju bus. PPFFTTT.  Tujuan selanjutnya adalah Desa Batik Trusmi. Trusmi it works. *halah*

Belanjaan sudah di tangan, bus  rombongan akan kembali ke Bandung. Daku? Tentu saja daku dan dua teman ngebolang turun dan memisahkan diri dari rombongan. Bye bye! ^^

Lalu kemanakah tujuan kami bertiga selanjutnya? Hotel belum booking, mobil rentalan baru ada besok pagi, oleh-oleh dan tentengan udah segambrengan. Makan! Itulah jawabannya. Kami pun menuju salah satu tempat empal gentong terkemuka di Cirebon. Haji siapaa gitu, lupa daku. Hehehe.

Semangkuk empal asem sudah di perut, badan juga sudah minta istirahat. Kasur Mana Kasur?? Referensi hotel yang kami punya di antaranya adalah Amaris dan Sidodadi di jalan Siliwangi, tepat di samping pintu stasiun Cirebon. Tapi kami lebih memilih Hotel Slamet yang terletak persis di seberang hotel Amaris karena...  harganya… sepertiga dari harga Amaris. HAHAHAHAHAAHA!

Tempatnya cukup nyaman apalagi jika dibandingkan dengan harganya. Satu kamar ada 2 bed dengan fasilitas fan, teve dan kamar mandi dengan kloset duduk. Bersih dan tidak spooky. Plus dapat jatah sarapan pula.
HAPPY TUMMY

Setelah istirahat, mandi, shalat Maghrib dan Isya, tujuan kami berikutnya adalah wisata kuliner. Makan lagi? Tentu saja! Nasi Jamblang Mang Dul yang berada persis di sebrang Grage Mall menjadi pemberhentian berikutnya. Selesai makan, sepertinya masih ada space di perut kami. Sambil gigitin es lilin kami jajan Tahu Tegal. Tahu yang dipotong kecil lalu dilapisi tepung kanji. Enak. Malam makin larut, perjalanan ditutup dengan naik becak sepuluhribueun.
LAH ABANG BECAKNYA MANAA?

Ketukan bellboy yang mengirim sarapan ke kamar membangunkan daku. Sudah jam tujuh pagi. Tenang aja, mobil nanti jemput jam delapan kok. TAPI KAN DAKU BELUM MANDI YA. Bergegaslah segera mempercantik diri dan sarapan nasi kuning yang disediakan hotel. Rencananya kalau kami bangun lebih pagi, pengin foto-foto dulu di stasiun, tapi ya namanya juga bangun kesiangan, lha ya piye..

Jam delapan tepat, driver sudah menjemput.

Mas Rental: Ada yang mau dicari lagi ndak di Cirebon? Apa mau langsung ke Kuningan?
Daku: Saya sih enggak. *ngelirik temen cowok*
Temen: Hehehe iya, saya mau ke Trusmi lagi.
TUH KAAN SIAPA BILANG DOYAN BELANJA ITU HANYA MILIK KAUM PEREMPUAN. HIH.
BELANJA CYN?

Tempat pertama yang kami kunjungi di Kuningan adalah Linggarjati. Sebuah wisata alam dan sejarah.
BEBEK GOWES

IKAN DEWA

Next stop yaitu….. belanja oleh-oleh lagi. Sebuah toko bernama Teh Diah.
CALON ISTRI BINANGKIT

YANG FIGURA ORANYE ITU TEH DIAH, YANG KERUDUNG ORANYE TEH NAGA

Lalu kami menuju Sangkan Hurip, ada wisata alamnya ada juga waterboom.
MBAH MINTA DUWIT SEKARUNG

ALAY-ING EVERYWHERE

ECOPOT COPOT COPOT KAGET GUE BOK

BELAKANGKU ITU GUNUNG CIREMAI ^^

Lanjut ke Waduk Dharma.



Pulang dari Waduk Dharma, daku dapat berita buruk soal keadaan Mamah. Maka rencana kuliner di Kadipaten dan Sumedang pun diurungkan, Mas Driver menginjak pedal gas dan bergegas menuju Bandung. Rasanya tak karuan, lemas, sedih, bingung, kesal, seperti melayang. Esoknya Mamah dilarikan ke Rumah Sakit karena gula darahnya tinggi sampai 519. Alhamdulillaah setelah 5 hari dirawat Mamahku sayang sudah bisa pulang ke rumah.

Jadi bagaimana rasanya hatiku ini tidak digoyang-goyang. Lagi jalan-jalan tiba-tiba ada kabar buruk. Rasanya seperti naik ontang-anting. Goyang-goyang gak karuan. Never gonna forget this trip.


Sampai jumpa di vacation selanjutnya!